STUDI TENTANG POTRET SISTEM PENDIDIKAN DI JEPANG
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kondisi
Jepang Pasca Perang Dunia II
Senin, 6 Agustus 1945 merupakan awal era baru bagi
sejarah kemanusiaan. Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan eksperimen
intensif, para ilmuan dari berbagai bangsa, diantaranya berkebangsaan Jepang
berhasil menemukan sebuah bom atom yang telah siap digunakan, dan pada hari itu
juga manusia menggunakannya. Di Amerika, program pengembangan bom atom saat itu
dikenal dengan nama Manhattan Project yang bekerja secara amat rahasia.
Atas keputusan penguasa militer Amerika, meskipun menghadapi protes para ilmuan
yang bekerja pada proyek tersebut, bom atom telah dijatuhkan di Hiroshima,
Jepang.
Sebagai akibat langsungnya, sekitar 60.000 rakyat
Jepang menjadi korban, semesntara 100.000 diantaranya mengalami luka-luka.
Hampir seluruh bandar dan sebuah kota dengan 250.000 penduduk, hancur. Menurut
para ahli, bola api yang meledak di permukaan bumi yang ditimbulkan oleh bom
atom tersebut, berdiameter sekitar 150 meter dengan temperatur inti 20.000
derajat Celcius. Kecepatan benturannya antara 500 hingga 1.000 km per jam, dan
lama panas radiasinya berkisar 2 detik. Bom yang dijatuhkan di Hiroshima
tersebut menggunakan fisi inti uranium yang memiliki kekuatan 20.000 ton TNT.
Tak pelak lagi, beberapa hari kemudian, Jepang mengaku menyerah kalah, dan
berakhirlah Perang Dunia II.
Setelah Perang Dunia II, Jepang mengalami kemerosotan
disegala bidang. Sektor pendidikan dibiayai oleh pajak, bantuan luar negeri,
serta pengalihan sebagian besar anggaran pertahanan dan keamanan yang tidak
lagi merupakan prioritas karena perang sudah usai. Menyadari keterpurukan
rakyatnya, pemerintah berupaya membiayai hampir semua kebutuhan pendidikan
siswa. Misalnya, membebaskan uang sekolah, menyediakan buku pelajaran secara
cuma-cuma, dan memberi makan siswa agar tetap bergizi. Sebuah titi untuk
memulai membangun negara kembali. Kekalahan Jepang menyadarkan arti pentingnya
hidup damai dan sejahtera. Tak selang beberapa lama, Jepang membangun kembali
puing-puing akibat serangan tersebut.
Saat krisis ekonomi melanda Asia sejak tahun 1997,
Jepang yang tidak luput dari imbas krisis tersebut melakukan langkah-langkah
pemulihan ekonomi, efisiensi, dan memperkenalkan paket pemulihan. Pada November
1998, LDP dan kebanyakan partai oposisi utama Jepang menyetujui dilakukannya
suntikan dana sekitar 30 triliun yen dari dana publik kepada ekonomi negara.
Sejak itu, banyak bank komersial utama mengajukan permohonan kepada pemerintah
untuk mendapatkan dana publik sejumlah 8 triliun yen. Pada Maret 1999, 15 bank
menerima 7,4 triliun dari dana publik, dan seluruh bank telah melakukan
konsolidasi atas posisi keuangan mereka. Ternyata hal ini secara signifikan
mampu mengurangi ketidakpastian situasi ekonomi negara. Jepang tergolong
sebagai salah satu diantara negara maju; industri otomotif dan elektoniknya
mampu meraup pasar global.
B.
Kondisi Demografi, Penduduk, Kondisi
Keluarga, danPotensi
Income Negara
1.
Kondisi Demografi
Jepang
adalah sebuah negara kepulauan di Samudera Pasifik, lepas pantai Asia Timur.
Negara-negara yang letaknya paling dekat dengan Jepang adalah Rusia, RRC, dan
Republik Korea. Negeri Jepang memiliki lebih dari 6.800 pulau. Kebanyakan pulau
tersebut sangat kecil, hanya 340 pulau yang luasnya lebih dari 1 km2.
Empat pulau besar mencakup 96% dari negara ini, yakni Hokkaido, Honshu,
Shikoku, dan Kyushu. Areal daratan seluruh Jepang luasnya hampir 364.555 km2.
Kepulauan Jepang membentang sebagai garis kurva yang tipis sepanjang 3.500 km.
Sebagai perbandingan, Australia mempunyai luas total 7.710.000 km2,
Madagaskar 594.000 km2, Kerajaan Inggris 244.000 km2, dan
AS 9.370.000 km2.
Pulau-pulau
Jepang yang sekarang ini terbentuk melalui tabrakan perlahan berbagai bagian
kulit bumi yang bergerak, kegiatan gunung api, dan pergeseran garis pantai
samudera yang diakibatkannya. Banyak dari bagian Jepang yang terdiri atas
pegunungan-pegunungan tinggi dengan lembah-lembah sempit diantaranya.
Kenyatannya, 68% wilayah Jepang bergunung-gunung. Kebanyakan rakyat memilih
hidup di kawasan datar atau kawasan yang sedikit berbukit, yakni tempat yang
pertanian dan angkutan barangnya mudah dilakukan. Pegunungan merupakan salah
satu ciri alam yang paling indah yang dimiliki Jepang. Gunung Alpen di pulau
Honshu sangat termasyhur, tetapi gunung di Jepang yang paling dikenal orang
tentunya adalah gunung Fuji yang tingginya 3.776 meter, yang merupakan gunung
tertinggi di Jepang. Sepersepuluh dari semua gunung api yang ada di dunia
terdapat di Jepang. Jepang
merupakan
bagian dari wilayah beriklim sedang, sehingga negeri ini mengalami empat musim yang berbeda setiap tahunnya yakni musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi.[1]
2. Penduduk
Jumlah
penduduk kurang lebih 126.559.099
jiwa.
Jepang merupakan negara berpenduduk terbanyak ke 11 di dunia. Rata-rata terdapat lebih
dari 347 orang untuk setiap 1 km2. Karena kebanyakan daratan Jepang
tidak cukup datar untuk rumah atau jalan, di beberapa kawasan tingkat
kepadatannya sebenarnya bahkan lebih tinggi. Sebagian besar orang Jepang
tinggal di pantai timur yang telah berkembang ramai, atau di kawasan sebelah
selatan yang merupakan lokasi kebanyakan kota besarnya. Begitulah, empat dari
setiap lima orang Jepang tinggal di kota besar. Lebih dari seperempat penduduk
Jepang tinggal di Tokyo dan di Prefektur-prefektur yang saling berdekatan. Kawasan-kawasan
metropolitan di seputar kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Nagoya, kini merupakan
tempat tinggal hampir 91,8%
penduduk Jepang.
Rakyat Jepang berasal dari berbagai tempat. Rakyat dari daratan
Asia dahulu kala datang dan tinggal bersama kaum pribumi di pulau-pulau Jepang
serta pulau-pulau Pasifik yang berdekatan. Kemudian, para pendatang dari Cina
dan Korea membawa pengaruh adat-istiadat, festival, cerita rakyat, serta
makanan khas masing-masing. Misalnya, rakyat di kawasan Kanto (termasuk Tokyo)
kerap makan natto, yang mirip tempe/ tauco; sementara rakyat dikawasan
Kansai yang meliputi Osaka menyantap natto hanya sesekali saja. Setiap
kawasan mempunyai dialek tersendiri; kata dan ungkapan yang berlainan dari satu
tempat ke tempat lainnya.
3. Kondisi
Keluarga
Orang
Jepang secara tradisiomal mempunyai ikatan keluarga yang erat. Hingga kini
masih ada anak-anak, orang tua, dan kakek-nenek yang tinggal serumah bersama.
Keluarga tiga generasi demikian masih merupakan sekitar 12% rumah tangga
Jepang. Perceraian tidak begitu umum dibandingkan dengan keadaan yang terjadi
di banyak negara Barat. Agka perceraian hanya 1,57 untuk setiap 1.000 orang (bandingkan
dengan angka 4,8 di AS atau 2,9 di Kerajaan Inggris). Kebanyakan keluarga
mempunyai satu atau dua anak. Oleh karena itu, usia rata-rata populasi Jepang
meningkat dengan pesat. Anak-anak berusia di bawah 15 tahun sekarang berjumlah
20,42 juta, sedangkan orang-orang tua berusia di atas 64 tahun berjumlah 17,59
juta. Makin banyak orang-orang berusia lanjut yang tinggal sendirian, dan
orang-orang muda menikah lebih lambat. Usia menikah rata-rata adalah 29,7 tahun
untuk pria dan 27,1 untuk wanita. Dengan demikian, Jepang sedang belajar
cara-cara baru guna membantu kaum muda ataupun kaum tua, untuk hidup dalam
masyarakat modern.
Kaum muda juga mendapatkan cara-cara baru untuk hidup dan
bekerja. Beberapa pasangan muda suami istri memilih tidak punya anak, dan ada
pasangan tidak peduli apakah puya anak atau tidak, membina dua karier. Makin
banyak wanita bekerja di luar rumah; 40,5 % dari jumlah seluruh karyawan Jepang
pada tahun 1994 adalah wanita. Mayoritas wanita yang bekerja adalah mereka yang
sudah menikah, dan mereka tengah mencari cara-cara baru untuk memberi
keseimbangan antara kerja dan anak-anak.[2]
4.
Potensi Income Negara
Pertumbuhan dan kemajuan Jepang dalam bidang perekonomian terutama setelah PD II, dipandang sesuatu yang sangat menakjubkan. Perekonomian negeri ini merupakan suatu perpaduan dari kemajuan-kemajuan yang dicapai pada sector industri, perdagangan,
perbankan, pertanian, serta semua unsur yang mendukung.
a. Sumber Daya alam Jepang
Jepang
sebenarnya hanya sebuah Negara kepulauan kecil yang miskin akan sumber daya
alam. Walaupun sumber daya alam di Jepang sangat minim, justru kekuatan Jepang
terletak pada sumber daya manusianya “rakyat” yang ulet, pekerja keras, suka
meniru kemajuan negara-negara lain untuk menciptakan sendiri produk-produk yang
lebih maju dan royal dalam penyediaan dana pemerintah atau masyarakat bagi
proyek-proyek penelitian. Hasil cipta dan kreasi baru dalam segala bidang sangat dihargai di Jepang. Karena miskinnya akan sumber daya alam bagi keperluan industrinya,
negeri-negeri itu terpaksa harus mengimpor sebagian dari hasil tambang.
TiaptahunJepangmembutuhkankomoditisepertiminyakbumi, biji besi, kokas dan biji logam non besi, seperti tembaga nikel, bauksit dan lain-lain.
b.
Hasil Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian Jepang memusatkan diri pada sector perdagangan luar negeri. Jepang memasarkan barang-barang hasil industrinya kenegara lain.
Barang-barang Jepang bahkan merajai pasaran Amerika Serikat danEropa Barat.
c.
Pertanian dan Perikanan
Kegiatan ekonomi tradisional Jepang adalah pertanian dan perikanan. Kondisi tanah yang subur sehingga cocok untuk lahan pertanian. Laut yang
mengelilingi Jepang kaya dengan segala bentuk kehidupan. Orang Jepang sejak dulu senantiasa menggarap kekayaan laut untuk memperoleh sebagian besar makanan mereka. Jepang sampai saat ini merupakan Negara perikanan yang penting di dunia.
d.
Sektor Industri
Sektor industry merupakan perekonomian Jepang. Produksi logam di Jepang khususnya besi dan baja meluas dengan nyata sejak berakhirnya PD II. Jepang merupakan produsen baja terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.
Barang-barang Jepang di sector industry mesin, kendaraan bermotor, alat-alat elektronik, keperluan rumah tangga merajai pasar internasional. Produksi pemesinan di Jepang baik mesin listrik maupun mekanik dan barang-barang elektronik merupakan sector penting dalam industry Negara tersebut. Jepang mengekspor produksinya ke Amerika Serikat, Kanada,
Meksiko, Kawasan Amerika Utara, Asia,
Afrika dan Amerika Latin serta Eropa.[3]
C.
Pemerintahan
Jepang
Jepang
merupakan
sebuah Negara yang berbentuk
kerajaan.
Kepala negaranya disebut Kaisar. Sejak pembaharuan yang dilakukan oleh Kaisar Meiji, Jepang merupakan Negara kerajaan yang memiliki
Undang-undang Dasar. Dalam teori ketatanegaraan Jepang adalah sebuah monarki konstitusional.
Jepang menjalankan sistem pemerintahan yang
demokratis. Semua warga negara yang sudah dewasa berhak memberikan suara dan
mencalonkan diri dalam pemilihan nasional dan pemilihan daerah. Sistem
pemerintahan Jepang didasarkan pada konstitusi (UUD) Jepang yang kadang kala
disebut Konstitusi Perdamaian karena menegaskan komitmen Jepang terhadap
perdamaian dan penolakannya terhadap perang. Konstitusi perdamaian juga
menentukan peranan Kaisar, hak-hak dan kewajiban rakyat, tanggung jawab
berbagai instansi pemerintah, serta berbagai aturan mengenai bagaimana
pemerintahan dijalankan.
Badan legislatif nasional Jepang disebut Diet dan
mempunyai dua majelis, yakni DPR dan House of Councillors. Kebanyakan
undang-undang nasional harus disahkan oleh kedua majelis tersebut. Akan tetapi,
untuk sebagian undang-undang , apabila kedua majelis tidak mencapai kata
sepakat, maka DPR yang memutuskan.
Perdana menteri adalah seorang anggota
Diet. Perdana menteri mengangkat Kabinet. Kebanyakan anggota kabinet
mengepalai sebuah kementerian atau badan pemerintahan. Adapun Kaisar,
berdasarkan konstitusi Jepang, merupakan lambang negara dan kesatuan rakyat.
Kaisar tidak mempunyai kekuasaan yang berkaitan dengan pemerintahan. Keluarga
kekaisaran berasal dari berabad-abad yang lalu dan merupakan dinasti tertua
yang tak pernah terputus di dunia. Kaisar Akihito, kaisar yang sekarang, naik
tahta pada tahun 1989. Beliau dan istrinya, Permaisuri Michiko, mempunyai tiga
orang anak. Kaisar dan Permaisuri tinggal di istana Kekaisaran di Tokyo. Sejak
tahun 1868, Tokyo merupakan ibu kota Jepang, sebuah kota metropolitan yang
terpadat penduduknya di dunia, tetapi tetap bersih dan aman.[4]
D.
Filsafat Pendidikan yang dijadikan Dasar
Pengembangan Pendidikan di Jepang
Peraturan
pendidikan di jepang dapat dibedakan dari dua periode, yaitu sebelum dan
sesudah Perang Dunia II. Sebelum perang, kebijakan pendidikan yang berlaku
adalah Salinan Naskah Kekaisaran tentang Pendidikan (Imperial Rescript on
Education).
Sesudah
perang, yaitu
pada Maret 1947 berlaku Hukum Dasar Pendidikan (Fundamental Law of Education) yang berbunyi“The objective of education for the development of
personality should be to help people acquire the abilities for building a
satisfactory and spontaneous life, for adapting to social reality and for the
creative solution af difficulties, the Japanese people showing tolerance for
the values of others, should realize their national identify and on the basis
of the rules of a democratic society and national tradition, should contribute
to the peace of the world and to the welfare of mankind through the development
of a district but universal culture”.
Pendidikan
Jepang menitik beratkan pada pengembangan kemampuan dasar dalam diri generasi muda, bukan pada keterampilan vokasional yang khusus dengan asumsi bahwa mereka harus siap menyesuaikan secara fleksibel kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan-perubahan yang cepat dalam masyarakat.[5]
Pada
hakikatnya, Undang-undang tersebut merupakan statemen filsafat pendidikan demokratis yang dalam banyak hal berbeda dengan Imperial Rescript on Education. Misalnya dalam hubungan antara warga dengan negara. Dalam Imperial Rescript on Education
disebutkan
bahwa warga memiliki kewajiban untuk mengembangkan daya intelektual dan moral mereka, melaksanakan hokum dan mempersembahkan keberaniannya demi Negara untuk melindungi dan menjaga kesejahteraan istana Kaisar, sedangkan dalam Fundamental Law of Education
disebutkan
bahwa tiap warga Negara memiliki kesempatan yang sama untuk menerima pendidikan sesuai dengan kemampuan mereka, bebas dari diskirminasi atas dasar ras, jenis kelamin, status sosial, posisi ekonomi, asal usul keluarga, bantuan financial bagi yang memerlukan, kebebasan
akademik, dan
tanggung
jawab untuk membangun Negara dan masyarakat yang damai.
Dalam
Imperial Rescript on Education
bahwa
tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan keserasian dan ketaatan bagi kaisar agar dapat memperoleh persatuan masyarakat di bawah kaisar. Adapun tujuan pendidikan menurut Fundamental Law of Education
adalah
untuk meningkatkan perkembangan kepribadian secara utuh, menghargai nilai-nilai individual, dan menanamkan jiwa yang bebas.[6]
E. Kebijakan Bidang Pendidikan Formal
1. Jenis
Pendidikan di Jepang
a. Pendidikan
Prasekolah
Taman
Kanak-kanak menerima murid berusia 3-5 tahun, untuk lama pendidikan 1-3 tahun.
Anak berusia 3 tahun diterima dan mengikuti pendidikan selama 3 tahun,
sedangkan anak usia 4 tahun berarti menempuh pendidikan prasekolah ini selama 2
tahun, bagi pendaftar usia 5 tahun berarti menempuh pendidikan hanya selama 1
tahun. Selain TK, ada pula lembaga untuk anak-anak yang disebut Hoiku-jo
(Pusat Perawatan Siang Hari). Meskipun termasuk lembaga kesejahteraan sosial, Hoiku-jo
juga berfungsi sebagai tempat pendidikan prasekolah. Yang masuk ke Hoiku-jo
adalah bayi hingga usia 5 tahun yang memerlukan perawatan siag hari karena
kedua orang tuanya bekerja atau memiliki kesibukan lainnya. Mereka yang berusia
3 tahun keatas biasanya mendapat pendidikan sama seperti di TK.
b. Pendidikan
Wajib
Wajib
sekolah berlaku bagi anak usia 6-15 tahun. Tiap anak bersekolah di SD pada usia
6 hingga 12 tahun, lalu di SLTP hingga 15 tahun. Pendidikan wajib ini bersifat
cuma-cuma atau tanpa bayar bagi semua anak. Anak-anak dari keluarga yang tidak
mampu mendapat bantuan khusus dari pemerintah pusat dan daerah untuk biaya
makan siang di sekolah, piknik, kebutuhan belajar, kesehatan, dan lain-lain.
Seorang anak yang telah tamat sekolah dasar diwajibkan meneruskan pendidikannya
ke sekolah menengah pertama.
Sekolah
wajib ditempuh selama 9 tahun, 6 tahun di sekolah dasar dan 3 tahun di sekolah
menengah pertama, setelah itu diteruskan ke sekolah menengah atas.
Hampir
semua siswa Jepang belajar bahasa Inggris, yakni sejak tahun pertama mereka di
SLTP dan kebanyakan mempelajarinya paling tidak selama enam tahun. Mata
pelajaran wajib di SLTP adalah bahasa Jepang, ilmu-ilmu sosial, matematika,
sains, seni rupa, pendidikan jasmani, dan pendidikan kesejahteraan keluarga.
Berbagai mata pelajaran tersebut diberikan pada waktu yang berlainan setiap
hari selama seminggu sehingga jarang ada jadwal pelajaran yang sama pada hari
yang berbeda.
c. Pendidikan
Menengah Atas
Sekitar
97% siswa meneruskan studi di SMA dan lulus ketika mereka berusia 18 tahun.
Tiga perempat dari siswa tersebut bersekolah di sekolah menengah umum,
sementara yang seperempat lainnya bersekolah di sekolah menengah khusus
kejuruan.
Ada
tiga jenis sekolah menengah atas, yaitu full time, part-time
(terutama pada malam hari), dan tertulis. Sekolah yang full time
berlangsung selama 3 tahun, sedangkan kedua jenis sekolah lainnya menghasilkan
diploma yang setara. Sebagian besar siswa mendapatkan pendidikan menengah atas
di sekolah menengah atas full time. Jurusan di sekolah menengah atas
dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan pola kurikulum, yaitu
jurusan umum (akademis), pertanian, teknik, perdagangan, perikanan, home
economic, perawatan, dan lain-lain. Untuk masuk ke salah satu jenis sekolah
tersebut, siswa harus mengikuti ujian masuk dan membawa surat referensi dari
sekolah menengah tempat ia lulus sebelumnya.
d. Perguruan
Tinggi
Ada
tiga jenis lembaga pendidikan tinggi, yakni universitas, junior college
(akademi), dan technical college (akademi teknik). Di universitas
terdapat pendidikan sarjana (S-1) dan pasca sarjana (S-2 dan S-3). Pendidikan
S-1 berlangsung selama 4 tahun, menghasilkan sarjana bergelar Bacheloe’s
degree, kecuali di Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi yang berlangsung 6
tahun. Pendidikan pasca sarjana dibagi dalam dua kategori, yakni Master’s
degree (S-2) dan Doctor degree (S-3). S-2 berlangsung sekitar dua
tahun sesudah tamat S-1, sedangkan S-3 berlangsung selama 5 tahun.
Junior
college memberikan pendidikan selama dua atau tiga tahun bagi
para lulusan sekolah menengah atas. Kredit yang diperlukan di junior college
dapat dihitung sebagai bagian dari kredit untuk memperoleh gelar Bachelor’s
degree (S-1). Lulusan sekolah menengah (setingkat SLTP) dapat masuk ke technical
college (akademi teknik). Pendidikan di lembaga ini berlangsung selama 5
tahun (full time) untuk mencetak tenaga teknisi.
Ada
lima jenis pendidikan tinggi yang bisa dipilih mahasiswa asing dinegeri sakura,
yaitu program sarjana, pascasarjana, diploma, akademi, dan sekolah kejuruan.
Diploma (tankidaigaku) yang lama pendidikannya 2 tahun. 60% dari program
ini diperuntukkan bagi pelajar perempuan dan mengajarkan bidang-bidang seperti
kesejahteraan keluarga, sastra, bahasa, kependidikan, kesehatan. Akademi (senshuugakko)
atau special training academy adalah lembaga pendidikan tinggi yang
mengajarkan bidang-bidang khusus, seperti keterampilan yang diperlukan dalam
pekerjaan atau kehidupan sehari-hari, dengan lama masa pendidikan antara 1-3
tahun. Adapun sekolah kejuruan (koutasenmongakkao) adalah program khusus
untuk lulusan SLTP dengan lama pendidikan 5 tahun dan bertujuan membina teknisi
yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.[7]
2. Manajemen
Pendidikan
a. Otorita
Pada
level nasional. Kementrian Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan merupakan
badan utama yang bertanggung jawab di kabinet dan DIET untuk mempersiapkan
perkiraan anggaran, membuat draf aturan-aturan pendidikan serta memformulasikan
kebijakan-kebijakan pendidikan. Kementrian mengalokasikan bantuan dana untuk Board
of education tiap Distrik dan Kotapraja dan membantu mereka dengan saran
dan bimbingan teknis. Kementrian memberikan pedoman untuk menyusun kurikulum,
mata pelajaran, dan lainnya. Dewan Pendidikan Distrik juga melakukan supervisi
atas masalah-masalah personalia pada lembaga pendidikan pemerintah, memberikan in-service
training bagi guru-guru, membeli dan mengurus bahan-bahan ajar dan lainnya.
b.
Pendanaan
Dana
pendidikan berasal dari berbagai jenis pajak, dan dari sumber-sumber lainnya.
Dalam tahun 1980, 16,7 triliun yen (kurang lebih US$72,600 juta) dibelanjakan
untuk keperluan pendidikan. Dari dana pemerintah tercatat US$64,800 juta yag
berarti 19,7% dari keseluruhan belanja pemerintah Jepang. Dari 14,9 triliun yen
(pemerintah dan swata) yang dibelanjakan untuk pendidikan, dari Taman
Kanak-kanak sampai perguruan tinggi, 54,5% dialikasikan untuk wajib belajar,
17,9% untuk pendidikan menengah, dan 21,1% untuk pendidikan tinggi.
c.
Pendidikan Guru
Guru-guru
untuk sekolah dasar dan sekolah menengah dididik dan dilatih di lembaga-lembaga
pendidikan tinggi, yaitu universitas program pascasarjana, dan junior college
yang dipilih oleh Kementrian Pendidikan. Sertifikat mengajar sebagaimana diatur
oleh Undang-undang dijamin untuk selama-lamanya oleh Dewan Pendidikan Distrik dan
berlaku di semua distrik. Sertifikat mengajar untuk sekolah dasar memberi hak
kepada guru untuk mengajar semua mata pelajaran, sementara sertifikat mengajar
furu sekolah menengah membolehkan mereka mengajarkan hanya mata pelajaran
bidang studi tertentu.
Untuk
memperoleh tempat mengajar di sekolah dasar atau sekolah menengah negeri,
seorang calon harus mengikuti ujian rekrutmen. Pengangkatan dilakukan oleh
Dewan Pendidikan Distrik atas dasar rekomendasi dari Superintendent Distrik,
yang biasanya mempertimbangkan hasil ujian rekrutmen.
d.
Kurikulum
Kurikulum sekolah didasarkan pada program studi yang
ditentukan oleh kementerian Pendidikan. Dewan Pendidikan Distrik dan Kotapraja
menyiapkan pedoman atau panduan pengembangan kurikulum disekolah dalam daerah
mereka, dan masing-masing sekolah diminta menjabarkan kedalam program-program
yang lebih rinci tetapi tetap mengikuti pedoman yang telah diberikan untuk
program studi tertentu.
Pada tahun 1980, program pendidikan sekolah dasar
terdiri dari bahasa jepang sebagai bahasa pengantar, studi ilmu-ilmu sosial,
berhitung, ilmu pengetahuan umum, musik, seni, dan kerajinan, pendidikan
jasmani (untuk grade 5 dan 6). Disamping itu, pendidikan moral wajib
diajarkan selama satu jam pelajaran per minggu pada sekolah negeri dan boleh
diganti dengan pelajaran agama pada sekolah-sekolah swasta.
Program-program pendidikan yang dikeluarkan oleh
Kementrian Pendidikan dijabarkan sebagai berikut. Dewan kurikulum, yaitu bagian
kurikulum kementrian, menyiapkan pedoman umum atas perintah menteri. Pedoman
yang telah disiapkan Dewan Kurikulum digunakan oleh staf ahli menteri beserta
rekan-rekannya sebagai acuan dalam menulis program-program untuk setiap grade
dan setiap mata pelajaran. Buku pegangan guru untuk setiap mata pelajaran
pada level itu juga disiapkan oleh staf spesialis kurikulum kementrian dengan
bantuan guru-guru yang terlibat dalam Dewan Kurikulum.
e.
Ujian, Kenaikan Kelas, dan Sertifikasi
Pada semua tingkat dalam sistem sekolah di Jepang
berbagai jenis ujian dan sumber-sumber informasi lain digunakan untuk menilai
apakah siswa dapat dinaikkan dari level yang satu ke level berikutnya, apakah
siswa boleh mendaftar di sekolah tertentu, dan apakah mereka dapat diberi surat
keterangan atau sertifikat bahwa mereka telah menamatkan pendidikannya.
Ditingkat sekolah dasar, keputusan untuk kenaikan kelas dan soal tamat atau
tidak, seluruhnya ditentukan oleh ujian-ujian yang diselenggarakan sendiri oleh
sekolah. Tidak ada ujian lain yang sifatnya eksternal.
Sekolah menengah tingkat atas mimilih pelamarnya
atas dasar hasil ujian kemampuan akademik yang diselenggarakan oleh Dewan
Pendidikan masing-masing dan transkip nilai yang diterima dari masing-masing
sekolah tempat asal calon. Pelamar ke universitas atau akademik (junior
college) diseleksi oleh masing-masing lembaga penerima dengan persyaratan
telah menyelesaikan pendidikan formal minimal 11 tahun, memperoleh skor ujian
masuk yang ditentukan, dan hasil pendidikan di sekolah menengah tingkat atas
yang dinyatakan dalam transkip sekolah.[8]
F.
Kebijakan
Pendidikan Agama Islam di Jepang
Sejalan
dengan meningkatnya kontak antar bangsa dan internasionalisasi pendidikan, pelajar dan mahasiswa muslim di seluruh dunia berdatangan untuk studi di Jepang. Pada tahun 1994, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang, baik
dengan status beasiswa
pemerintah
Jepang, beasiswa
pemerintah Indonesia, maupun
biaya sendiri, untuk jenjang S-1, S-2, S-3 dan lain-lain, mencapai 1.178
orang. Dibandingkan
dengan negara lain dalam periode yang sama, meskipun angka ini tergolong kecil, yang ditekankan dalam konteks ini adalah bahwa pelajar dan mahasiswa Indonesia yang kebanyakan
beragama Islam terus
berdatangan
ke Jepang, lalu membentuk komunitas muslim tersendiri bersama dengan rekan-rekan seagamanya dari belahan dunia yang lain. Studi keislaman di Jepang juga menunjukkan peningkatan. Di Universitas Tokyo telah didirikan Islamic Area Studies Project di bawah pimpinan Sato Tsugitaka. Masjid dan
Islamic Center
menjadi
tempat rujukan kaum muslim yang tinggal di Jepang untuk saling bertemu. Praktik ibadah haji asal Jepang terus meningkat dan diorganisasi secara resmi oleh pemerintah Jepang. Beberapa sarjana Jepang mulai menunjukkan minatnya terhadap kajian keislaman atau Islam konteks ke Indonesiaan, seperti yang dilakukan
oleh ToshohikoIsutzu, Mitsuo Nakamura, Akira Nagazumi, dan
lainnya.[9]
G. Pendidikan Karakter di Jepang
Adapun Pendidikan
karakter di Jepang diajarkan
melalui pendidikan moral atau
dalam bahasa Jepangnya
disebut dengan doutoku yang
diberikan pada setiap jenjang sekolah mulai dari SD sampai
SMA. Melalui pendidikan moral ini
tercipta karakter bangsa
Jepang yang terkenal sebagai
bangsa yang ulet, pekerja
keras, gigih, jujur,
memiliki rasa toleransi, dan
rasa kesetia kawanan yang tinggi.
Pendidikan moral ini
diintegrasikan ke dalam kurikulum
pendidikan dan telah menjadi
bagian tak terpisahkan
dalam mata pelajaran lainnya.
Kurikulum pendidikan di
Jepang terdiri atas tiga kategori:
(1) mata pelajaran akademik (wajib
dan pilihan), (2) pendidikan moral,
dan (3) kegiatan
khusus.
Pendidikan moral
diberikan sebanyak 34 jam
belajar pada tingkat
awal, 35 jam
pada tingkat kedua hingga 9 ( kelas 2 SD hingga 3 SMP).
Hal ini mewakili
3,3-4,0% dari total jam
belajar setiap tahunnya
dari tiap tingkat. Dengan
kata lain, terdapat satu jam pelajaran
(45 menit untuk SD dan 30 menit
untuk SMP) pendidikan
moral yang diberikan setiap
minggunya.
Pendidikan karakter
di sekolah-sekolah Jepang
banyak diajarkan dalam bentuk
praktek langsung. Pendidikan
moral di sekolah-sekolah SD dan SMP
di Jepang tidak diajarkan
sebagai sebuah mata pelajaran khusus seperti di Indonesia,
tetapi diintregasikan dalam semua
mata pelajaran. Yang bertanggung
jawab secara langsung adalah wali
kelas. Pendidikan moral
di Jepang diantaranya diajarkan
dalam pelajaran seikatsu atau
life skill atau pendidikan kehidupan
sehari-hari. Adapun di tingkat SMA pendidikan moral dirubah menjadi
pendidikan kewarganegaraan. Prinsip dasar hidup yang kuat di masa pendidikan
dasar inilah yang membuat kedisiplinan dan keteraturan dalam masyarakat Jepang.
[10]
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Jepang
merupakan
negara yang berbentuk kerajaan, kepala negaranya disebut Kaisar dengan pemerintahan demokratis, letaknya di lepas pantai timur Benua Asia, membentang dari utara keselatan sepanjang 3.800 km. Pantai timur kepulauan Jepang langsung berbatasan dengan Samudera Pasifik. Negara Jepang terdiri
dari hampir 4000 pulau besar dan kecil yang terbentang sepanjang timur laut
pantai benua. Jepang salah satu
negara maju dalam bernagai sektor, kemajuan negara di Jepang di dukung karena
Sumber Daya Manusianya yang baik. Untuk meningkatkan SDM yang baik negara
Jepang merencanakan program-program atau sistem pendidikan yang baik pula.
Negara Jepang merupakan
negara yang sukses dalam memajukan pendidikannya terlihat pada pengaturan
sistem pendidikannya yang tertata dengan baik dimana seluruh lembaganya
bekerjasama dan melaksanakan perannya masing-masing secara optimal. Pendidikan
Jepang terdiri atas sistem 6-3-3-4
dimana siswa belajar 6 tahun Sekolah Dasar (Shougakkou),
3 tahun Sekolah Menengah Pertama
(Chuugakkou), 3 tahun Sekolah
Menengah Atas (Koutougakkou), 4
tahun atau lebih
untuk jenjang Perguruan Tinggi (Daigaku). Pendidikan 9
tahun dari SD
hingga SMP merupakan pendidikan
wajib yang harus diikuti
oleh setiap siswa
yang ada di Jepang. Jepang juga mengadakan pendidikan
karakter atau pendidikan moral sejak dini, yakni mulai SD.
B.
Saran
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat menambah
pengetahuan serta wawasan pembaca mengenai sistem pendidikan di Jepang.
Selanjutnya penulis makalah mengharapkan kritik dan saran pembaca demi
kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Assegaf, Abdul Rahman. 2003. Internasionalisasi Pendidikan. Yogyakarta:
Gama Media.
Mangandaralam,
Syahbuddin. 1994. Jepang
Negara Matahari Terbit. Bandung: PT RemajaRosdakarya.
Mulyadi, Budi. 2014. Model Pendidikan
Karakter Dalam Masyarakat Jepang, Jurnal
IZUMI, Volume 3, Nomor 1.
Nur,
Agustian Syah. 2001. Perbandingan
Sistem
Pendidikan.
Bandung: Lubak
Agung.
[1]Abd Rachman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan,
Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara-negara Islam dan Barat, (Yogyakarta:
GAMA MEDIA, 2003), hlm. 169-171.
[3]Syahbuddin Mangan daralam,
Jepang Negara Matahari Terbit,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,1994), hlm.72-75.
[4] Abd Rachman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan,
Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara-negara Islam dan Barat, (Yogyakarta:
Gama Media, 2003), hlm. 169.
[7]Abd Rahman Assegaf, Internasionalisasi PendidikanSistem
Perbandingan Pendidikan di Negara-Negara Islam dan Barat (Yogyakarta: GAMA
MEDIA, 2003), hlm. 176-179.
[10] Budi Mulyadi,
“Model Pendidikan Karakter Dalam Masyarakat Jepang” ( Jurnal IZUMI, Volume 3, Nomor 1, 2014), hlm. 71-73.
Komentar
Posting Komentar