STUDI TENTANG POTRET SISTEM PENDIDIKAN DI IRAN


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Potret Sistem Pemerintahan Iran

Republik Islam Iran adalah sebuah negara muslim Syiah terbesar di dunia. Nama iran sudah digunakan sejak era Dinasti Sasania yang diambil dari bahasa Persia Kuno yang berarti, “negara bangsa Arya”. Namun, hingga tahun 1935, di negeri-negeri lain yang berbahasa Inggris, negeri ini dikenal dengan nama Persia.
Proses pembentukan pemerintahan bangsa Iran sebagai negara modern dengan sistem pemerintahan yang mulai modern, yakni pada masa dinasti Shafawi (1507-1736) dan dinasti Qajar (1779-1925). Penerapan ortodoksi agama dengan sufisme dengan corak Syiah yang sangat kental menjadi karakteristik sosial dan pemerintahan pada masa pemerintahan Shafawi. Pada tahun 1779, wilayah Iran mulai mendapatkan campur tangan Eropa yaitu negara Inggris. Kemudian Iran telah menjadi negara Monarki konstitusional pada tahun 1906, dengan pembentukan dewan legislatif yang terdiri atas 200 anggota serta Majelis Tinggi yang terdiri atas 60 anggota.
Pada tahun 1925 dinasti Qajar jatuh dan digantikan oleh dinasti Pahlevi yang berkuasa hingga 1979. Titik balik terpenting dalam sejarah Iran adalah tumbangnya kekuasaan dinasti dengan model pemerintahan monarki yang telah bertahan selama lebih dari 25 abad pada bulan Februari 1979 melalui sebuah  proses revolusi yang disebut dengan Revolusi Islam Iran. Revolusi yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini tersebut berhasil merubah negara Iran menjadi negara modern dengan sebutan Republik Islam Iran dimana kekuasaan dipegang oleh otoritas wali faqih (ulama) sebagai pemimpin tertinggi pada wilayah agama dan politik atau disebut juga dengan sistem Wilayat al-Faqih yang mana semuanya terpusat pada wali faqih tidak dikenal lagi dikotomi antara pemimpin politik dan pemimpin agama.
Dengan adanya peristiwa perang Iran-Irak selama 8 tahun (1980-1988), pada masa itulah diantaranya iran mengalami masa-masa yang cukup sulit yaitu masa-masa awal revolusi. Akibat dari perang ini bangsa Iran cukup menguras energi dan banyak menelan kerugian serta korban. Namun perang Iran-Irak ternyata tidak cukup mampu menggoyahkan eksistensi Republik Islam Iran yang baru saja terbentuk. Bangsa Iran, kemudian lambat laun mulai membangun kekuatannya pada setiap lini penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diantara ilmu pengetahuan dan militer. Sampai saat ini, baangsa Iran menjadi negara muslim yang eksistensinya cukup disegani oleh masyarakat dunia internasional termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan sekutunya yakni Israel.[1]
Sistem pemerintahan Iran dibentuk atas kepemimpinan pemerintah (wilayah al-amr) dan kepemimpinan agama (Imamah). Kepala pemerintahan adalah presiden, sedangkan kepemimpinan agama berasal dari Faqih (wilayah al-faqih) yang diakui sebagai pemimpin oleh rakyat.[2]

B.    Kondisi Demografis dan Income Negara Iran

Jumlah penduduk Iran pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 83.992.949 jiwa. Penduduk mesir setara dengan 1,08% dari total populasi dunia. Iran berada di peringkat nomor 18 dalam daftar Negara ketergantungan berdasarkan populasi. Kepadatan populasi di Iran adalah 52 per km2. Total luas tanah adalah 1.628.550 km2 628.786 mil persegi). 75,5% dari populasi adalah perkotaan (63.420.504 orang pada tahun 2020). Usia rata-rata di Iran adalah 32,0 tahun.[3]
Jumlah penduduk Iran 90% menganut paham Syiah, sehinggga pendidikan Islam di Republik Islam Iran mengarah kepada Islam Syiah. Paham Syiah berteologikan Muktazilah (Qadariyah) sehingga mereka mempunyai visi yang revolusioner dengan menempatkan imam mereka sebagai pemimpin yang ma’sûm (terjaga dari kesalahan atau dosa).[4] Identitas bangsa Iran saat ini dapat diuraikan sebagai berikut: hampir 66% rakyat Iran berasal dari bangsa Persia, sedangkan yang 25% dari Turki, 5% dari Kurdi, dan 4% dari Arab. Suku terkenal di Iran adalah Klan Bakhtisri, Cossack, Qajar, Turkaman,Syahsoon, Kurd, Afsyar, Sanjani, Gilak, dan lain-lain. Karakter jasmaninya adalah tinggi-sedang, dengan mata dan alis berwarna hitam. Mata uang Iran adalah rial, yang nilainya sama dengan seratus dinar. Ibu kotanya adalah Teheran. Iran terdiri atas 24 provinsi, 195 kota, dan 498 distrik yang di awasi oleh kepala provinsi, gubernur jendral, dan gubernur distrik. Bahasa resmi bangsa Iran adalah Bahasa Persia. Itulah sebabnya urusan administrasi, dokumentasi, dan komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Persia sementara bahasa Arab yang merupakan bahasa Islam, diajarkan di semua tingkat sekolah pada tiap jurusan. Kalender resmi pemerintah adalah kalender Syamsiah, dengan libur resmi mingguan pada hari jum’at. Meskipun begitu, kalender Qomariyah yang berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad s.a.w. juga populer dipakai di Iran. Bendera Iran berwarna komposisi hijau, putih, merah, dengan lencana khusus yang menggunakan kata Allahu Akbar.
Saat meletus Perang Dunia II, Iran menyatakan negaranya netral. Namun, ketika Jermanmenyerang Rusia dan tentara Sekutu memerlukan tersedianya jalur yang aman bagi tentara Rusia lewat jalur lintas kereta api dari Teluk Persia ke arah Utara, maka mereka menyerang dan menduduki Iran. Akibatnya, pada tahun 1942, Iran menyatakan perang dengan Jerman. Setelah terjadi penarikan mundur tentara pendudukan, lalu pusat pemerintahan dapat dikendalikan lagi. Iran berupaya merehabilitasi kerugian ekonomi dan sosial, tetapi saat itu negara benar-benar tidak memiliki dana. Untuk mengatasi hal itu dibukalah negosiasi dengan pihak Perusahaan Minyak Anglo-Iran (Anglo- Iranian Oil Company) yang disepakati secara bulat. Dicapai kesepakatan, yaitu bahwa konsorsium perusahaan minyak dibentuk untuk mengeksploitasi dan memasarkan minyak Iran. Iran pun menjadi salah satu negara produsen minyak terkemuka di dunia. Pada tahun 1968, produksi minyak tahunan Iran mencapai satu miliar barel per hari, menempatkan Iran di antara tiga negara pengekspor minyak terbesar di dunia.
Beberapa sumber ekonomi Iran adalah pertanian, peternakan, perikanan, dan kerajinan tangan, permadani, jenis permadani Iran memang terkenal halus dan berkualitas ekspor.[5]

C.    Filsafat Pendidikan Yang Dijadikan Dasar Pengembangan Pendidikan di Iran

Setelah Revolusi Islam Iran pada 1979, sistem pendidikan Iran mengalami perubahan yang sangat mendasar dan semua upaya pendidikan harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam. Prioritas harus diletakkan pada terjaminnya usaha mendidik anak-anak dan generasi muda sehingga menjadi muslim yang konsekuen dan punya komitmen yang tinggi terhadap agama Islam. Upaya pendidikan didasarkan pada al-Quran, tradisi Islam, dan konstitusi republik Islam Iran sebagai dasar dalam merumuskan tujuan dan sasaran pendidikan. Sistem pendidikan di iran sebagai berikut:
1.   Pendidikan Prasekolah yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta.
2.   Pendidikan Dasar dimulai pada anak umur 6 tahun dan berlangsung selama 6 tahun.
3.   Pendidikan Menengah diselenggrakan selama 3 tahun.
4.    Pendidikan tinggi.[6]

D.    Kebijakan Strategi Di Bidang Pendidikan

Di Iran sendiri, pemerintah pusat lewat Kementerian Pendidikan,  bertanggung jawab untuk pembiayaan dan mengontrol administrasi pendidikan dasar dan menengah. Di tingkat lokal, pendidikan diawasi melalui pemerintah  provinsi dan kantor kecamatan. Selain itu, Departemen Pendidikan mengawasi ujian nasional, memonitor standar, menyelenggarakan pelatihan guru, mengembangkan kurikulum dan materi pendidikan, mendanai pembangunan dan pemeliharaan sekolah. Sedangkan Dewan Tinggi Pendidikan adalah badan legislatif yang menyetujui semua kebijakan dan peraturan yang berhubungan dengan pendidikan. Sekolah swasta (non-profit) sebagian didanai oleh pemerintah dan beroperasi di bawah pengawasan Departemen Pendidikan.
v Kebijakan Pendidikan
Undang-undang Dasar Republik Iran memberi penekanan pada kewajiban pendidikan dan pengajaran. Kementrian Pendidikan dan pengajaran bertugas mengurusi anak-anak agar mendapat pendidikan dasar hingga tamat. Jenjang pendidikan di Iran dimulai dari taman kanak-kanak yang bersifat opsional (tidak diwajibkan) untuk anak yang berkisar umur 5-6 tahun, lama pendidikan satu tahun. Pendidikan prasekolah pada umumnya diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta. Tujuan umum pendidikan awal ini adalah untuk mempersiapkan anak-anak memasuki pendidikan formal. Kegiatan pada pendidikan pra-sekolah ini antara lain bermain bersama, membaca cerita, bernyanyi, permainan aktivitas, dan pekerjaan tangan yang perlengkapannya sangat sederhana seperti kertas, papan tulis, dan pena. Sedangkan Pendidikan Dasar untuk anak berumur antara 6 tahun sampai dengan 11 tahun, jangka waktu pendidikan 6 tahun, wajib diikuti oleh semua warga negara. Pendidikan menengah/ siklus orientasi (Rahnamayi) untuk anak berkisar antara umur 11 tahun sampai dengan 14 tahun. Lama belajar 3 tahun, wajib diikuti oleh setiap warga Negara. Untuk tingkat SMA (Dabirestan), lama belajar 3 tahun, tidak diwajibkan bagi setiap warga negara. Pada tingkat ini, pendidikan telah mengarah kepada keretampilan/ teknis dimana teori dan praktik diseimbangkan. Untuk teori terdiri atas matematika, fisika, ilmu-ilmu ekspremental, sastra, dan humaniora. Sebelum melanjutkan ke Perguruan Tinggi atau universitas, setiap siswa harus mengikuti persiapan masuk ke perguruan tinggi (Konkoor) selama satu tahun. Setelah lulus persiapan masuk perguruan tingg. Khusus fakultas kedokteran dan Sastra Parsi, di kampus-kampus di Iran, mahasiswa tidak perlu membayar biaya apapun.[7]

E.  Kebijakan Negara Iran Terhadap Pendidikan Agama Islam

Waktu Shah Reza Pahlevi berkuasa, hampir semua sarana pendidikan terpusat di kota. Penduduk pedesaan sangat tidak beruntung dalam hal ini. Setelah Revolusi Islam, berbagai pusat pemberantasan buta huruf didirikan di seluruh pelosok negara, terutama di pedusunan. Pada tahun 1979, dilakukan gerakan melek huruf hingga menjangkau sekitar tiga juta rakyat dengan lebih dari 167.000 kelas pemberantasan buta huruf.
Mengingat revolusi Iran berdasarkan nilai Islam, maka pada masa pasca revolusi banyak didirikan sekolah agama untuk mendidik siswa agar mampu berasimilasi dengankebudayaan Islam. Banyak pelajar dan mahasiswa masuk ke sekolah dan perguruan tinggi, terutama di pusat kota seperti Teheran, Qom, dan Masyhad. Dibandingkan sebelum Revolusi, Iran Pasca revolusi banyak mengalami perubahan. Perubahan tersebut antara lain tampak dalam hal kurikulum, buku pelajaran, kegiatan akademik, dan gerakan melek huruf.[8]
 Revolusi yang terjadi pada 1979 tidak hanya dalam aspek pemerintahan, tetapi juga dalam bidang pendidikan, yaitu islamisasi ilmu pengetahuan. Setelah  revolusi, sekolah-sekolah swasta dinasionalisasi, semua siswa dipisahkan menurut jenis kelamin, buku pelajaran yang mencerminkan ajaran  Islam dicetak.  Banyak perguruan tinggi yang ditutup dan dibuka kembali secara berangsur- angsur mulai 1982-1983 dengan menggunakan kurikulum yang Islami (Islamisasi ilmu pengetahuan).
Pada 1980 dibentuk suatu komite revolusi kebudayaan yang bertugas mengawasi nilai-nilai Islam dalam pendidikan. Lembaga penyedia buku teks pelajaran yang anggotanya terdiri atas mayoritas ulama berhasil menghasilkan 3000 koleksi buku pelajaran baru yang mencerminkan pandangan Islam. Proses pembelajaran dengan paradigma islamisasi ilmu pengetahuan telah diperkenalkan ke dalam kelas utama enam bulan setelah revolusi di Republik Islam Iran.
Pendidikan Islam di Iran terintegrasi dalam semua mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik melalui nilai-nilai keislaman dalam semua materi pelajaran. Dalam praktiknya di lapangan, pelaksanaannya diawasi oleh Komite Revolusi Kebudayaan yang didirikan pada 1980. Materi pelajaran agama  (religious education) diberikan selama dua jam setiap minggu ditambah materi pelajaran tentang Alquran. Bagi mereka yang berkeinginan mempelajari secara mendalam tentang ilmu keislaman, dapat melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi pada Fakultas Teologi atau di universitas swasta setelah mereka lulus ujian masuk perguruan tinggi. Terdapat universitas Islam swasta terbesar di Iran, yaitu Islamic Azad University, di mana cabangnya tersebar di semua provinsi di Iran, dengan jumlah mahasiswa mencapai 1,5 juta mahasiswa. Di samping sistem pendidikan Islam formal, pendidikan Islam nonformal juga diberikan di masjid atau maktab. Materi pembelajarannya adalah Alquran, logika, bahasa Arab, dan gramatika (nahwu).[9]

F.  Pengembangan Kurikulum Dan Pengembangan Tenaga Kependidikan Di Iran.

1.   Pengembangan Kurikulum
Tujuan Pendidikan Pada 1957 M, Kementerian Pendidikan Republik Islam Iran mengumumkan bahwa tujuan pendidikan sebagai berikut:
a.   Untuk pengembangan fisik, murid murid harus belajar olahraga dan kesehatan (perhatian terhadap kedua aspek ini telah dimulai sejak lama). Hal ini tampak pada mata pelajaran Military Service Preparation (khususnya siswa laki-laki) pada kelas 8, sedangkan pada siswa perempuan tidak diwajibkan.
b.   Untuk pengembangan sosial, murid murid harus belajar menghormati keluarga, masyarakat dan kebebasan. mereka harus memahami kehidupan sosial-ekonomi, dan berusaha hidup di dalamnya dan untuk masyarakat. (konsep ini sudah terlihat pada awal kedatangan Islam), Hal ini dituangkan dalam pelajaran social sciences.
c.   Untuk pengembangan intelektual, murid murid harus belajar berpikir, kalau dapat melaui pengalaman mereka sendiri. (ini merupakan konsep yang datang dari Eropa), Mata pelajaran yang dikaitkan dengan hal tersebut adalah mata pelajaran matematika dan sains (IPA), sejarah, geografi, dan Kejuruan.
d.   Untuk pengembangan moral, murid murid harus mengerti agama, kebudayaan dan peradaban, sehingga dengan itu mereka mampu mengendalikan diri sendiri. (konsep inilah yang menjadi salah satu maksud pendidikan Persia), karenanya mata pelajaran agama yang mencakup pendidikan agama, bahasa Arab, dan al-Quran mendapat perhatian cukup besar dalam pengalokasian waktu pelajaran di tingkat Sekolah Menengah Pertama di Iran.
e.   Untuk pengembangan estetika, murid murid harus cinta pada alam, dan memperkuat kepribadiannya melaui seni.[10]
v Metode Pembelajaran
Metodologi pengajaran bermula menirukan cara yang dipakai di maktab yang bernuansa keagamaan dan mengutamakan hafalan. Kenyataan bahwa pada awal abad ke-20, kelas cenderung besar dan buku-buku sangat kurang. Metode hafalan menjadi lebih populer. Begitu juga dengan sistem pekerjaan rumah yang tidak lebih hanya sekedar menyalin kalimat-kalimat dari buku teks bahkan disalin beberapa kali. Dengan didirikannya sekolah-sekolah pendidikan guru, dimulailah memperkenalkan metode aktif. Pada beberapa sekolah di pedesaan metode ini kelihatannya menampakkan hasil yang memuaskan yang guru-gurunya adalah anggota korp pria dan wanita yang belum kenal metode hafalan. Tetapi, reformasi metode mengajar harus menghadapi cara lama yang sudah tertanam lama, yaitu mengandalkan hafalan dan ingatan.
v Jam Pelajaran
Sejak tahun 1973 sampai revolusi Islam tahun 1979, hambatan utama bidang pendidikan di Iran adalah Sumber Daya Manusia. Di kota, persediaan guru cukup memadai untuk melayani Pendidikan Dasar bagi semua orang walaupun cukup banyak guru-guru itu tidak sepenuhnya memenuhi syarat dan kelas cenderung besar. Menurut Undang-Undang Dasar negara Iran pendidikan dasar adalah wajib walaupun lamanya tidak disebutkan dan gratis. Tetapi Undang-Undang ini belum pernah terlaksana. Halangan utama dalam usaha peningkatan enrollment pada tingkat Pendidikan Dasar adalah kemampuan lembaga pendidikan guru untuk menghasilkan guru. Perkembangan ini lambat disebabkan terbatasnya jumlah dosen yang memenuhi kualifikasi.
v Dinamika Kurikulum
Kurikulum pendidikan di Iran dilaksanakan secara terpusat. Panitia-panitia
khusus dibentuk untuk melakukan pengkajian ulang atau review dan memberikan rekomendasi yang diajukan panitia-panitia lokal dari daerah yang berbeda-beda dan para ahli. Pengidentifikasian kebutuhan pendidikan dasar dilakukan oleh badan koordinasi dasar dan rekomendasi panitia khusus. Panitia ini membuat saran-saran mengenai isi dan metodologi untuk tiap mata pelajaran pada setiap tingkat kelas. Tetapi pada akhirnya badan koordinasilah yang mengalokasikan waktu untuk setiap mata pelajaran pada setiap level. Hasil bahasan badan koordinasi dan panitia khusus dikirim kepada Dewan Tinggi pendidikan untuk mendapat persetujuan akhir. Dewan ini selanjutnya menyampaikan rencana tersebut kepada para penulis untuk dijadikan buku teks yang disusun oleh para penulis dan mengusulkan revisi. Sedangkan pada tingkat perguruan tinggi para dosenlah yang menentukan isi mata kuliah.
2.   Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Sistem sekolah berada di bawah yurisdiksi Kementerian Pendidikan Dan Pelatihan. Selain sekolah, Kementerian ini juga memiliki tanggung jawab untuk pelatihan guru dan lembaga teknis. Departemen Pendidikan mempekerjakan jumlah tertinggi pegawai negeri sipil 42% dari total dan menerima 21% dari anggaran nasional. Sebanyak 15.018.903 siswa telah bersekolah di sekolah dengan 87.024 kelas 485.186 di seluruh negeri pada tahun akademik 1990-1991. Dengan rincian sebagai berikut: 509 sekolah untuk anak-anak cacat, 3.586 TK, 59.280 Sekolah Dasar, 15.580 Sekolah Menengah Pertama, 4.515 Sekolah Menengah Atas, 380 Sekolah Teknik, 405 Studi Bisnis dan sekolah-sekolah kejuruan, 64 Sekolah Pertanian, 238 kota dan 182 guru sekolah dasar pedesaan „akademi pelatihan, tujuh kejuruan dan profesional latihan guru dan 19 lembaga perguruan tinggi teknologi. Ada juga 2.259 sekolah-sekolah pendidikan orang dewasa.
Kesejahteraan Guru Rata-rata gaji guru terendah perbulan US$300 Gaji Guru untuk golongan Ia dengan masa kerja 0 tahun Rp.1.040.000,- dan Pegawai Golongan IV/a dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp 2.880.800 dan Program sertifikasi Guru untuk guru profesional. Anggaran Pendidikan Pemerintah menganggarkan hamper 40% APBN untuk pendidikan Pemerintah menganggarkan untuk pendidikan 20% dari Anggaran APBN meski belum terealisasi sepenuhnya.
Semenjak tahun 1973 sampai revolusi Islam tahun 1979, hambatan utama dalam bidang pendidikan di Iran ialah sumber daya manusia. Kekurangan guru juga terjadi pada tingkat sekolah menengah, terutama pada sekolah-sekolah kejuruan dan teknik. Disini banyak lulusan yang baik-baik, mereka tertarik dengan kemungkinan akan mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi di negeri yang industrinya berkembang dengan cepet. Perluasan sistem universitas diharapkan dapat menyediakan suplay guru untuk sekolah menengah.
Sama halnya dengan pertumbuhan yang cepat di tingkat pendidikan tinggi menuntut staff pengajar yang punya kualifikasi serta para administrator. Ada kemajuan yang diperoleh dalam memenuhi persyaratan personil universitas, yaitu dengan mengangkat para lulusan yang pulang setelah menyelesaikan pendidikan lanjutan diluar negeri. Kenyataan bahwa hampir seperdua mahasiswa Iran tingkat pendidikan tinggi belajar di luar negeri, juga memberi harapan dan angin segar bagi pendidikan tinggi di Iran.[11]

G. Sistem Penjenjangan Pendidikan Yang Dikembangkan Iran

Negara Iran berada di kawasan Timur Tengah tepatnya wilayah Asia Barat Daya dan di masa awal Iran dikenal dengan nama Persia meskipun belakangan setelah adanya Revolusi Iran kemudian menjadi Republik Islam Iran. Selama abad kesembilan belas, pendidikan secara bertahap menjadi salah satu fokus utama reformasi di sana, bukan hanya mengirimkan mahasiswa ke luar negeri akan tetapi banyak mendatangkan instruktur dari Eropa utamanya untuk mengajar para militer setelah kekalahannya dalam perang melawan Rusia. [12]Pendidikan di Iran masih bersifat sentralistik terdiri dari pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi. Pendidikan dasar dan menengah di bawah naungan Departemen Pendidikan (ministry of education), sedangkan pendidikan tinggi di bawah naungan dan pengawasan Departemen Ilmu dan Teknologi.
1)  Pendidikan Pra-Sekolah
Jenjang pendidikan di Iran dimulai dari taman kanak-kanak untuk anak yang berkisar umur 5-6 tahun, lama pendidikan satu tahun, di mana tahap ini bersifat opsional (tidak diwajibkan). Pendidikan prasekolah pada umumnya diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta. Tujuan umum pendidikanawal ini adalah untuk mempersiapkan anak-anak memasuki pendidikan formal. Kegiatan pada pendidikan prasekolah ini antara lain permainan bersama, membaca cerita, bernyanyi, permainan aktivitas, dan pekerjaan tangan yang perlengkapannya sangat sederhana seperti kertas, papan tulis kertas, dan pena.
2)  Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar (Dabestan) untuk anak berumur antara 6 tahun sampai dengan 11 tahun, jangka waktu pendidikan lima tahun, wajib diikuti oleh semua warga Negara. Pendidikan menengah/siklus orientasi (Rahnamayi) untuk anak berkisar antara umur 11 tahun sampai dengan 14 tahun. Lama belajar 3 tahun, wajib diikuti oleh setiap warga Negara.
3)  Pendidikan Menengah
Untuk tingkat SMA (Dabirestan), lama belajar 3 tahun, tidak diwajibkan bagi setiap warga negara. Pada tingkat ini telah mengarah kepada keretampilan/teknis dimana antara teori dan praktik untuk setiap
program diseimbangkan. Untuk teori terdiri atas matematika, fisika, ilmu-ilmu ekspremental, sastra, dan humaniora.
Sebelum masuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau universitas, setiap siswa diharuskan mengikuti persiapan masuk ke perguruan tinggi (Konkoor) selama satu tahun. Setelah lulus persiapan masuk perguruan tinggi, mahasiswa dapat melanjutkan ke program perguruan tinggi dengan tahapan sebagai berikut:
a.   Teknik/vocational school (Fogh-e-Diplom atau Kardani) lama pendidikan dua tahun.
b.   Univesitas/bachelor degree (Karsenase atau licence) lama pendidikan empat tahun.
c.   Master degree (karsenase-ye Arsyad atau Fogh Lisence) lama pendidikan dua tahun.
d.   Program doktor/PhD (KarsenasiArshad-napayvasteh atau Doktora) lama pendidikan tiga tahun.
4)  Pendidikan Tinggi
Dua Kementerian yang bertanggung jawab untuk pendidikan pasca-sekolah menengah adalah Departemen Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (MCHE) dan Departemen Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran (MHME). Namun, Departemen Pendidikan juga memiliki yurisdiksi atas beberapa program pasca-sekolah menengah seperti guru sekolah dasar dan bimbingan pelatihan perguruan tinggi dan lebih tinggi Institut Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. [13]

H.   Perbedaan Antara Lembaga Pendidikan Milik Swasta Dan Negeri Di Iran

Untuk universitas negeri dilengkapi dengan berbagai macam laboratorium yang cukup memadai untuk kampus modern, laboratorium zoologi, kegiatan akademis, dan kampus Teheran digunakan sebagai satu-satunya tempat shalat jumat di ibu kota Iran. Universitas negeri tersebut antara lain adalah: Allanah Thabathaba’I, Universitas Manajemen Imam Shodiq, Universitas Syahid Behesti, Universitas Sains dan Teknologi Iran, Universitas Tabriz, Universitas Meshed, Universitas Gondishapour.
Sedangkan universitas swasta/ lembaga semi swasta kebanyakan menawarkan program pendidikan teknik dan profesional. Diantaranya: Universitas Pahlevi/ Universitas Shiraz, Universitas Nasional Iran, Universitas Teknik Aryanehr.[14]

 





BAB III
PENUTUP

A.  Simpulan

Sistem pemerintahan Iran dibentuk atas kepemimpinan pemerintah (wilayah al-amr) dan kepemimpinan agama (Imamah). Kepala pemerintahan adalah presiden, sedangkan kepemimpinan agama berasal dari Faqih (wilayah al-faqih) yang diakui sebagai pemimpin oleh rakyat. Jumlah penduduk Iran 90% menganut paham Syiah, sehinggga pendidikan Islam di Republik Islam Iran mengarah kepada Islam Syiah. Paham Syiah berteologikan Muktazilah (Qadariyah) sehingga mereka mempunyai visi yang revolusioner dengan menempatkan imam mereka sebagai pemimpin yang ma’sûm (terjaga dari kesalahan atau dosa).  Setelah Revolusi Islam Iran pada 1979, sistem pendidikan Iran mengalami perubahan yang sangat mendasar dan semua upaya pendidikan harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam. Prioritas harus diletakkan pada terjaminnya usaha mendidik anak-anak dan generasi muda sehingga menjadi muslim yang konsekuen dan punya komitmen yang tinggi terhadap agama Islam. Undang-undang Dasar Republik Iran memberi penekanan pada kewajiban pendidikan dan pengajaran. Kementrian Pendidikan dan pengajaran bertugas mengurusi anak-anak agar mendapat pendidikan dasar hingga tamat. Pendidikan Islam di Iran terintegrasi dalam semua mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik melalui nilai-nilai keislaman dalam semua materi pelajaran. Dalam praktiknya di lapangan, pelaksanaannya diawasi oleh Komite Revolusi Kebudayaan yang didirikan pada 1980.
Kurikulum pendidikan di Iran dilaksanakan secara terpusat. Panitia-panitiakhusus dibentuk untuk melakukan pengkajian ulang atau review dan memberikan rekomendasi yang diajukan panitia-panitia lokal dari daerah yang berbeda-beda dan para ahli. Pengidentifikasian kebutuhan pendidikan dasar dilakukan oleh badan koordinasi dasar dan rekomendasi panitia khusus. Sistem sekolah berada di bawah yurisdiksi Kementerian Pendidikan Dan Pelatihan. Selain sekolah, Kementerian ini juga memiliki tanggung jawab untuk pelatihan guru dan lembaga teknis. Negara Iran berada di kawasan Timur Tengah tepatnya wilayah Asia Barat Daya dan di masa awal Iran dikenal dengan nama Persia meskipun belakangan setelah adanya Revolusi Iran kemudian menjadi Republik Islam Iran. Selama abad kesembilan belas, pendidikan secara bertahap menjadi salah satu fokus utama reformasi di sana, bukan hanya mengirimkan mahasiswa ke luar negeri akan tetapi banyak mendatangkan instruktur dari Eropa utamanya untuk mengajar para militer setelah kekalahannya dalam perang melawan Rusia. Pendidikan di Iran masih bersifat sentralistik terdiri dari pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi. Pendidikan dasar dan menengah di bawah naungan Departemen Pendidikan (ministry of education), sedangkan pendidikan tinggi di bawah naungan dan pengawasan Departemen Ilmu dan Teknologi. Untuk universitas negeri dilengkapi dengan berbagai macam laboratorium yang cukup memadai untuk kampus modern, laboratorium zoologi, kegiatan akademis, dan kampus Teheran digunakan sebagai satu-satunya tempat shalat jumat di ibu kota Iran. Sedangkan universitas swasta/ lembaga semi swasta kebanyakan menawarkan program pendidikan teknik dan profesional.

B.  Saran

Dengan dibuatnya makalah ini penulis berharap kepada para pembaca bisa dengan mudah memahami isi dari makalah ini.Kemudian kepada pembaca agar mengetahui tentang “Studi Tentang Potret Sistem Pendidikan Di Iran” serta penulis berharap agar setelah membaca makalah ini para pembaca dapat mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.











DAFTAR PUSTAKA

Abdulmuiz. 2018. Potret Sistem Pendidikan Di Iran. Dikutip dari http://abdulmuiz18.blogspot.com/2018/03/potret-sistem-pendidikan-di-iran.html?m=1 (Di akses 10 Maret 2020).
Andriesgo, Johan. 2019. Analisis Sistem Pendidikan Islam Di Negri Mullah Republik Islam Iran. Bengkalis: Stain Bengkulis, Vol. 15 No. 2.
Anonim. 1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT Iktiar Baru Van Hoeve.
Assegaf, Abdur Rachman. 2003.  Internasionalisasi Pendidikan. Yogyakarta: Gama Media.
Fuady, M. Nor. 2016. Pendidikan Islam Di Iran (Tinjauan Historis Pra Dan Pasca Revolusi). Tarbiyah Islamiyah. 6(2): 113-114.
Kadir, Abdul. 2015. Syiah dan Politik: Studi Republik Islam Iran. Jurnal Politik Profetik. 5(1): 3-5.
Nur, Agustiar Syah. 2002. Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara. Bandung: Lubuk Agung.
Riadi, Haris, Dkk. 2019.  Jurnal Analisis Sitem Pendidikan Islam Di Negeri Mullah Republic Islam Iran. Bengkalis: STAIN Bengkalis, Vol. 15 No. 2.
Shahvar, Soli. 2009. The Forgotten Schools; The Baha’is and Modern Education in Iran, 1899-1934. London and New York: I.B. Tauris Publishers.
Szyliowics, Joseph S. 2001. Pendidikan dan Modernisasi di Dunia Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.


[1]Abdul Kadir, Syiah dan Politik: Studi Republik Islam Iran”. Jurnal Politik Profetik. Vol.5 No.1, tahun 2015, hlm. 3-5.
[2] Abdul Rahman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan: Sketsa Perbandingan Pendidikan Di Negara-Negara Islam Dan Barat, (Yogyakarta: Gama Media), hlm. 75.
[3] Worldometer.com, di akses pada tanggal 21 Maret 2020, Pukul 21: 30 WIB 
[4]Anonim, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT Iktiar Baru Van Hoeve, 1994), hlm. 241.
[5]Abdul Rahman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan: Sketsa Perbandingan Pendidikan Di Negara-Negara Islam Dan Barat, (Yogyakarta: Gama Media), hlm. 81.
[6]M. Nor Fuady, Pendidikan Islam Di Iran (Tinjauan Historis Pra Dan Pasca Revolusi)”. Tarbiyah Islamiyah. Vol. 6 No. 2, tahun 2016, hlm. 103.

[7] Johan Andriesgo, Analisis Sistem Pendidikan Islam Di Negri Mullah Republik Islam Iran, (Stain Bengkulis, 2019), Vol. 15 No. 2, hlm. 8.
[8] Abdul Rahman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan: Sketsa Perbandingan Pendidikan Di Negara-Negara Islam Dan Barat, (Yogyakarta: Gama Media), hlm. 78-79.        

[9] Joseph S. Szyliowics, Pendidikan dan Modernisasi di Dunia Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 2001), hlm. 101-103.
[10]Agustiar Syah Nur, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara, (Bandung: Lubuk Agung, 2002), hlm. 133-134.
[11] Haris Riadi, Dkk, Jurnal Analisis Sitem Pendidikan Islam Di Negeri Mullah Republic Islam Iran, (Bengkalis: STAIN Bengkalis, 2019), Vol. 15 No. 2, hlm. 10-11.
[12] Soli Shahvar, The Forgotten Schools: The Baha’is and Modern Education in Iran, 1899-1934,
(London and New York: I.B. Tauris Publishers, 2009), hlm. 11.
[13] M. Nor Fuady, “Pendidikan Islam Di Iran (Tinjauan Historis Pra Dan Pasca Revolusi)”. Tarbiyah Islamiyah. Vol. 6 No. 2, tahun 2016, hlm. 113-114.
[14]Abdulmuiz, “Potret Sistem Pendidikan Di Iran”, http://abdulmuiz18.blogspot.com/2018/03/potret-sistem-pendidikan-di-iran.html?m=1, Diakses 10 Maret 2020.


Komentar