SISTEM PENDIDIKAN DI SAUDI ARABIA
BAB II
PEMBAHASAN
A. Potret sistem pemerintahan Saudi Arabia
Nama resmi negara
ini adalah kerajaan Saudi Arabia (the kingdom of Saudi Arabia). Awalnya
lahirnya negara ini ketika Abdul Aziz Ibn Abdul Rahman al-Sa’ud dan sultan Najd
serta pengikutnya menyatukan kedua bagian negaranya dibawah satu administrasi
dan satu nama. Kata Saudi itu berasal dari nama rumah saud yang berkuasa.[1]
Arab saudi
adalah sebuah negara yang masih menganut kerajaan di kawasan Timur tengah.
Kerajaan arab saudi berasa dari Dinasti Saud yang dirintis sejak abad ke-18 di
daerah Najd yang terletak di bagian semenanjung Arab. Berdirinya dinasti Saud
berasal dari tokoh yang bernama Amir bin Muhammad bin Sa’ud (1703-1792)[2]. Kerajaan Saudi Arabia berdiri pada tahun 1920-an, tetapi proklamasi
terhadap negaranya dilakukan pada tahun 1932 oleh Raja Abdul Aziz Ibn Abdul
Rahman al-Sa’ud. Jadi pendiri kerajaan ini adalah Raja Abdul Aziz (almarhum)
yang wafat pada tahun 1737 H atau 1953 M, lalu digantikan oleh puteranya, Raja
Sa’ud ibn Abdul Aziz, setelah itu berturut-turut Raja Saudi Arabia adalah Raja
Faisal, Raja Khaled, dan sekarang Raja Fahd ibn Abdul Aziz ibn Sa’ud.
Sistem pemerintahan yang dianut oleh Saudi Arabia adalah sistem
pemerintahan Monarki Absolut yaitu sistem pemerintahan yang kepala negara dan
kepala pemerintahannya adalah seorang Raja. Kerajaan Saudi Arabia muncul ketika
Abdul Aziz bin Abdul Rahman as-Sa’ud berhasil menguasai wilayah Hijaz (wilayah
barat Saudi Arabia sekarang) pada tahun 1924. Sebagai pendiri kerajaan dan raja
pertama, ia menerapkan ajaran Islam dalam kebijakan publik, sistem peradilan
dan lapangan kehidupan yang lain.
Secara politik, Saudi Arabia merupakan negara yang menggunakan sistem
kerajaan atau monarki. Hukum yang digunakan adalah Syariat Islam. Hukum ini
mengatur sistem pemerintahan, mengatur hak dan kewajiban pemerintah serta warga
negara. Raja merangkap sebagai Perdana Menteri. Selain itu juga, raja juga
merangkap sebagai Panglima Tinggi Angkatan Bersenjata. [3]
B. Kondisi Demografi dan Potensi Income negara Saudi Arabia
Kerajaan Saudi
Arabia terletak di sudut barat daya Benua Asia, meliputi arean seluas 2.400.000
km, menepati 4/5 atau 80% dari total wilayah semenanjung Arabia. Disebelah
barat berbatasan dengan Teluk Arab, Bahrain Qatar, dan persatuan Emirat Arab,
disebelah selatan berbatasan dengan Oman dan Yaman. Populasi penduduknya lebih
dari 16.900.000 jiwa (1994). Dengan Riyadh sebagai ibu kotanya. Kondisi
geografi Saudi Arabia tergolong spesifik. Sebagian besar berupa gurun, bukit,
dan dibebrapa didaerah berdekatan dengan sungai atau laut. Saudi Arabia
termasuk pengekspor gandum terbesar ke-6 di dunia (1991). Perkebunan kurmanya
yang berkualitas tinggi juga mampu menembus pasar internasional. Untuk
meningkatkan pelayanan terhadap para jamaah Haji, pemerintah setempat terus
menerus membangun dan merenovasi berbagai bangunan dan fasilitas yang
berhubungan dengan ibadah Haji, termasuk pembangunan dan perenovasian
masjid-masjid di Makkah dan Madinah.
Masjid Makkah mampu menampung lebih dari 300.000 orang dan lahan
parkirnya berkapasitas 4000 motor-mobil. Untuk menjalankan Sa’i setelah thawaf,
orang tidak meninggalkan masjid karena jalan anatara safa dan marwah sekarang
ini telah dibangun didalam wilayah masjid. Rumah sakit besar juga didirikan di
Makkah sebagai sarana kesehatan bagi para jamaah Haji. Air zamzam yang diminum
oleh jamaah, bahkan dijadikan tanda mata untuk keluarga dikampung asalnya,
setiap hari dibawah pemeriksaan kesehatan oleh Departemen Kesehatan, termasuk
pengawasan terhadap rumah atau muqim jamaah selama mereka tinggal di kota suci
itu.[4]
C. Filsafat Pendidikan yang dijadikan dasar pengembangan Pendidikan di
Saudi Arabia
Sistem pemikiran di
Arab Saudi memisahkan laki-laki dan perempuan sesuai dengan syariat islam. Jadi
jika ditinjau dari ranah pemikiran filsafat, Saudi Arabia sangat mengedepankan
ideologi bangsanya yang merupakan negara islam. Secara umum sistem pendidikan dibagi menjadi 3 bagian utama :
1. Pendidikan umum untuk laki-laki
2. Pendidikan umum untuk perempuan
3. Pendidikan Islam untuk Laki-laki
D. Kebijakan Strategis dalam bidang Pendidikan di Saudi Arabi
Sejak tahun 1950-an, Saudi Arabia telah
melancarkan usaha pendidikan. Pendidikan dilaksanakan secara cuma-cuma bagi
semua penduduk, seluruh biaya ditanggung oleh pemerintah. Bahkan sekolah atau
lembaga tertentu yang didirikan diluar negeri untuk mempopulerkan Bahasa Arab
atau Kajian Islam, bukan hanya tanpa biaya, melainkan pendaftar yang diterima
mendapat tunjangan dana akomodasi, buku-buku, serta lainnya. Belakangan ini
Arab Saudi telah menggandakan Al-Quran dan
terjemahannya yang telah diratifikasi oleh Departemen Agama di Indonesia untuk
dicetak dan ke berbagai masjid serta pendidikan islam lainnya.
Masalah pendidikan di Saudi Arabia
ditangani oleh dua Departemen, itu adalah :
1.
Wizarah al-Ma’arif wa
al-Tsaqafah (Departemen Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan)
yang menangani pendidikan dasar dan menengah, baik umum maupun khusus.
2. Wizarah al-Ta’lim al-Aly (Departemen
Pengajaran Tinggi) yang menangani lembaga pendidikan tinggi, baik dilingkungan
Perguruan Tinggi Umum (PTU) maupun Perguruan Tinggi Agama (PTA).
Untuk pendidikan umum, baik laki-laki dan perempuan mendapat
kurikulum yang sama dan ujian tahunan yang sama pula. Ujian umum dibagi menjadi
4 bagian : Pendidikan Dasar seperti SD (6-12 tahun), Pendidikan Menengah
(12-15 tahun), Pendidikan Sekunder (15-18 tahun), dan Pendidikan Tinggi
(Universitas atau Akademik). Dalam upaya
pembangunan nasional sistem pendidikan dibebani 3 tujuan :
1. Untuk memberikan sekurang-kurangnya pendidikan dasar bagi seuruh
penduduk
2.
Untuk mempersiapkan
murid-murid dengan berbagai ketrampilan yang diperlukan untuk pengembangan
ekonomi yang terus berubah
3. Untuk mendidik anak-anak dalam kepercayaan nilai-nilai serta
kebudayaan islam
Dewan tertinggi pendidikan mempunyai tugas mengkoordinasikan
upaya-upaya kependidikan di Saudi Arabia.
E. Kebijakan negara Saudi Arabia terhadap Pendidikan Agama Islam
Pendidikan umum baik
di tingkat menengah sekolah dan universitas, belum sepenuhnya lepas dari akar
islamnya. Kebijakan pendidikan Arab Saudi termasuk diantara tujuannya promosi
dari “kepercayaan pada Tuhan satu, Islam sebagai cara hidup, dan Muhammad
sebagai Rosul Allah”. Pada tingkat sekolah dasar, rata-rata periode Sembilan
minggu di khususkan untuk mata pelajaran agama dan delapan per minggu pada
tingkat menengah pada tingkat sekunder diperlukan periode studi agama
berkurang, meskipun pemilihan tetap untuk konsentrasi dalam studi agama.
Untuk perempuan, tujuan pendidikan sebagaimana tercantum dalam kebijakan
resmi ideologis terikat dengan agama, tujuan mendidik seseorang gadis untuk
membawa tubuhnya dengan cara islam yang tepat, sehingga dapat melakukan
tugasnya dalam kehidupan, menjadi ideal dan ibu rumah tangga yang sukses dan
ibu yang baik, siap untuk melakukan hal-hal yang sesuai sifatnya seperti
mengajar, perawatan, dan pengobatan medis. Kebijakan juga diakui “hak perempuan
untuk memperoleh pendidikan sesuai sejajar dengan laki-laki dalam terang hukum
islam”[5] untuk pendidikan islam tradisional bagi laki-laki difokuskan untuk
membentuk calon-calon anggota dewan ulama. Selain itu mata
pelajaran pendidikan agama islam merupakan mata kuliah wajib bagi seluruh
jurusan pada universitas umum yang ada di Saudi Arabia.
F. Pengembangan kurikulum dan pengembangan tenaga kependidikan di
Saudi Arabia
1. Pengembangan Kurikulum
Dengan minimnya
keahlian dalam pendidikan modern, sistem pendidikan di Saudi Arabia pada
dasarnya mengambil atau mengakui kurikulum yang ada pada negara-negara Arab
lainnya, terutama adalah mesir, dengan lebih menekankan pendidikan keagamannya.
Kurikulum yang dijalankan anatar pendidikan laki-laki maupun permepuan ada
penambahan mata pelajaran manajemen rumah tangga, sementara pada sekolah
laki-laki ditambahkan pendidikan jasmani, pada sekolah swasta diharuskan mengikuti
kurikulum yang ada pada sekolah negeri.
2. Pengembangan Tenaga Kependidikan
Adanya perkembangan
pendidikan yang sangat pesat mengakibatkan kurangnya tenaga kependidikan di
Saudi Arabia, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya, namun hal ini
melahirkan 3 kebijakan utama yakni :
a. Merekrut personil asing, yang mayoritas adalah negara tetangga
b. Memperkeerjakan staf pengajar dan staf administrasi Saudi Arabia
yang latar belakang pendidikan keguruannya masih belum memadai
c. Membangun fasilitas pelatihan bagi personil staf.
G. Sistem penjenjangan Pendidikan yang dikembangankan di Saudi Arabia
Ditingkat dasar
dibentuk dua macam madrasah yaitu Madrasah Al-Qur’an (sejenis Taman
Pendidikan Al-Qur’an di Indonesia) dan Madrasah Ibtidaiyah (sekolah Dasar), menggantikan Sekolah
Desa yang dihapus pada tahun 1954. Untuk tingkat menengah, semula terdapat
dua jenjang sekolah umum (nonkejuruan), yaitu Kafaah dan Tauhijjah
yang masing-masing lamanya tiga tahun, tetapi kemudian di ubah menjadi I’dadiyah
yang lama belajarnya juga tiga tahun. Perubahan kebijakan di Saudi Arabia
ini tidak mengalami kesulitan, diantaranya karena mengingat komposisi
masyarakatnya homogen, dengan islam sebagai satu-satunya pandangan hidup.
Ditingkat sekolah
menengah atas yang disebut Madrasah Tsanawiyah terdapat dua jurusan,
yaitu Ilmi (jurusan ilmu pengetahuan) dan Adabi (jurusan Sastra). Sekolah ini
bersifat umum (nonkejuruan) dengan focus mempersiapkan para siswanya untuk
melanjutkan studi ke tingkat perguruan tinggi. Mesikipun demikian, mereka
bermaksud untuk terjun ke masyarakat disediakan ketrampilan tertentu oleh
lembaga pendidikan dengan berbagai aslternatif jurusan, misalnya keguruan,
perusahaan, perdagangan, kajian Al-Quran dan teologi islam.[6]
Sistem Pendidikan di Kerajaan Arab Saudi terdiri dari beberapa tingkat
seperti berikut ini:
1.
Pre-Elementary Level
(Tingkat Pra-SD)
Tingkat Pra-SD mempersiapkan anak laki-laki dan perempuan untuk pendidikan
dasar. Anak yang diajarkan pada tingkat ini menempuh pendidkan selama dua
tahun. anak terdaftar pada usia empat tahun di sekolah pembibitan (TK) dan pada
usia lima tahun di sekolah pendahuluan (SD)
2.
Elementary Level
(Tingkat Dasar)
Tingkat dasar sekolah wajib di Arab Saudi dan dianggap juga sebagai dasar
untuk pengembangan program pendidikan secara keseluruhan.
Anak terdaftar pada usia enam tahun dan menghabiskan total enam tahun di
tingkat dasar. Tahun ajaran terdiri dari dua semester, masing-masing dengan
setidaknya 15 minggu kelas dan periode pemeriksaan dua minggu kelas 1-4 dibebaskan dari ujian ini dan sebaliknya
secara teratur dievaluasi oleh guru mereka. Jadwal sekolah dasar harian enam
kelas 45 menit. Kurikulum standar dipelajari oleh anak laki-laki dan perempuan
di sekolah terpisah.
3.
Intermediate level
(Sekolah menengah)
Setelah menyelesaikan tingkat dasar, siswa antara usia dua belas dan empat
belas didorong untuk melanjutkan pedidikan mereka di tingakat menengah (setara
dengan nilai 7-9 dalam pendidikan Arab Saudi).
Tahun ajaran tingkat ini terdiri dari dua semester 15 minggu dan periode
pemeriksaan dua minggu. Ada 33 periode kelas per minggu, masing-masing adalah
45 menit penjangnya.
Pada tingkat ini, bahasa Inggris menjadi subjek yang diperlukan dan tetap
wajib sepanjang detik
4.
Secondary Level
(Tingkat Menengah)
a.
Regular Secondary
Education (Pendidikan Menengah Biasa)
Pendidikan sokolah menengah mencakup tiga tahun dan umumnya melayani siswa
di usia lima belas untuk sembilan belas kelompok umur tahun. Semua siswa di sekolah
menengah biasa mempelajari kurikulum umum untuk tahun pertama dan memilih dua
tahun yang tersisa salah satu jurusan berikut:
1)
Administrasi &
ilmu sosial
2)
Pengetahuan alam
3)
Syari’ah & Studi
Arab
Siswa yang mempertahankan kelas tinggi titik
rata dalam matematika dan ilmu fisika di tingkat kelas 10 di dorong untuk
mendaftar dalam program ilmu alam.
Tahun ajaran terdiri dua semester,
masing-masing dua puluh minggu, termasuk periode pemeriksaan dua minggu.
Periode kelas adalah 45 menit, dan jadwal mingguan bervariasi antara total dua
puluh enam tergantung pada kelas dan penekanan subjek. Untuk mendapatkan
sertifikit sekolah menengah siswa harus menyelesaikan kredit yang diperlukan
dan lulus ujian masing-masing subjek dengan nilai tidak kurang dari 50 persen
dari skor per maksimum.
b.
Vocational and
Technical secondary Education (Pendidikan Kejuruan dan Teknik Sekunder)
Kebijakan pembangungan nasional menjadi alasan
pentingnya pendidikan teknis dan pelatihan kejuruan di Arab Saudi. Keterampilan
teknis dan kejuruan tenaga kerja Saudi adalah faktor penting dalam meningkatkan
produktivitas dan tetap cepat dengan perkembangan teknologi yang cepat menyapu
dunia bisnis internasional. Program-program dalam pelatihan industri,
komersial, pertanian dan kejuruan yang dijelaskan di sini memainkan peran
penting dalam mempersiapkan pekerja Saudi yang lebih berketerampilan tinggi.
Pendidikan teknis dibagi menjadi tiga jenis:
a)
Industri
b)
Komersial
c)
Pertanian
Lembaga ini memiliki program tiga tahun untuk lulusan sekolah menengah
5.
Higher Education
Level (Tingkat Pendidikan Tinggi)
Post sekunder sistem pendidikan di Saudi
Arabia adalah sampai tingkat tertentu, mirip dengan sistem pendidikan Amerika
Serikat. Pola dan prosedur sistem pendidikan ini telah diadopsi sesuai dengan
sistem Islam tadisi dan adat istiadat.[7]
H. Perbedaan antara lembaga Pendidikan milik swasta dan negeri di
Saudi Arabia
Sekolah swasta
adalah bentuk yang paling tua di Saudi Arabia. Sebelum adanya sekolah-sekolah
pemerintah, keluarga-keluarga berada atau kaya, mengirim anak-anaknya ke
sekolah-sekolah swasta di negara-negara tetangga, atau ke bebrapa buah sekolah
swasta yang ada di Saudi sendiri,[8] di Saudi Arabia,
sekolah-sekolah swasta diharuskan oleh peraturan mengikuti kurikulum yang sama
seperti pada sekolah-sekolah negeri, pengimplementasian kurikulum dimonitor
melalui berbagai cara seperti kepala sekolah, kunjungan oleh para inspektur
dari kantor-kantor distrik dan juga melalui sistem ujian akhir
yang mencangkup seluruh materi yang seharusnya diajarkan pada setiap semester.
Ekspansi formal program pendidikan agama dalam
masyarakat yang teknologi modernisasi telah menciptakan bebrapa dislokasi
ekonomi dan beberapa derajat polarisasi sosial antara mereka
yang dilengkapi terutama dengan pendidikan agama dan mereka siap
untuk bekerja disektor ekonomi modern , disektor swasta, dimana sebagian besar
pertumbuhan kerja diperkirakan 1990-1995, kerja dilakukan
diproyeksikan meningkat sebesar 213.500, tapi pada saat yang sama tenaga kerja
Saudi Arabia meningkat sebesar 433.900 akibatnya
meningkatnya jumlah lulusan dalam studi agama pada tahun 1985 , 2.733 Mahasiswa
di Universitas Islam Madinah dan lebih dari 8.000 pada Muhammad bin Saud
University di Riyadh adalah sumber potensial ketidakpuasan negara dan agenda
modernisasi[9]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nama resmi negara ini adalah kerajaan Saudi Arabia (the kingdom of
Saudi Arabia). Kerajaan Saudi Arabia berdiri pada tahun 1920-an, tetapi
proklamasi terhadap negaranya dilakukan pada tahun 1932 oleh Raja Abdul Aziz
Ibn Abdul Rahman al-Sa’ud. Kerajaan Saudi Arabia terletak di sudut barat
daya Benua Asia, meliputi arean seluas 2.400.000 km, menepati 4/5 atau 80% dari
total wilayah semenanjung Arabia. . Kondisi geografi Saudi Arabia tergolong
spesifik. Sebagian besar berupa gurun, bukit, dan dibebrapa didaerah berdekatan
dengan sungai atau laut. Adapun potensi income negara berasal dari ekspor
gandum, perkebunan kurma, lading minyak, jamaah Haji yang berkunjung ke Makkah.
Sistem pendidikan dibagi menjadi 3 bagian utama : pendidikan umum
untuk laki-laki, pendidikan umum untuk perempuan, pendidikan islam untuk
laki-laki. Masalah pendidikan di Saudi Arabia ditangani oleh dua Departemen itu
adalah : Wizarah al-Ma’arif wa al-Tsaqafah (Departemen Ilmu Pengetahuan
dan Kebudayaan) dan Wizarah al-Ta’lim al-Aly (Departemen Pengajaran
Tinggi). Dalam pengembangan pendidik dan
tenaga kependidikan tiga kebijakan utama. Di Saudi Arabia sekolah-sekolah
swasta diharuskan oleh peraturan mengikuti kurikulum yang sama seperti pada
sekolah-sekolah negeri. Ekspansi formal program pendidikan agama dalam
masyarakat yang teknologi modernisasi telah menciptakan bebrapa dislokasi
ekonomi dan beberapa derajat polarisasi social antara mereka yang dilengkapi
terutama dengan pendidikan agama.
B. Saran
Dari penulis menyadari tentu masih banyak terdapat kekurangan
dan kesalahan baik dari penulisan serta penyaijan dalam makalah ini, oleh sebab
itu dari penulis mengharap masukan-masukan dari dosen pembimbing serta
teman-teman guna kesempurnaan makalah yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Assegaf, Abd Rachman.
2003. Internasional Pendidikan. Yogyakarta. Teras
Butar-Butar,
Arwin Juli Rackhmadi. 2019. Penentuan Awal Bulan di Mesir dan Arab Saudi. Surabaya. Sahabat Cendekia
Davies, Beyon.
2006. Education System In Saudi Arabia. Wasington. Kingdom Of Saudi Arabia Ministry
Eang, David and
Bernard Reich (eds). 1980. The Goverment. Colorando. Westview Press
Maunah, Binti.
2011. Perbandingan Pendidikan Islam. Yogyakarta. Teras
Syah Nur,
Agustina. 2001. Perbandingan Sistem Perbandingan 15 Negara. Bandung. Lubuk Agung
[1]
Agustiar Syah Nur, Perbandingan Sistem Pebandingan 15 Negara, (Bandung :
Lubuk Agung, 2001), hlm. 39.
[2] David E Long and Bernard Reich (eds), The Goverment
and Politics of The Midde East and North Africa, Boulder, (Colorado:
Westview Press. 1980), hal 89
[3] Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, Penentuan Awal Bulan Di Mesir dan Arab
Saudi, (Surabaya: Sahabat Cendekia, 2019), hlm. 12-14.
[4]
Abd. Rachman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan, ( Yogyakarta : GAMA
MEDIA , 2003), hlm. 67-68.
[7]Beyon Davies, ,Education Sytem In Saudi Arabia, (Wasington: Kingdom
of Saudi Arabia Ministry, 2006) hlm. 3-5
[9]
Binti Maunah,, Perbandingan Pendidikan Islam, hlm.205
Komentar
Posting Komentar