PENGARUH TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KELEMBAGAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

A. Pengertian Teknologi Pendidikan/Pembelajaran
Sejak tahun 1994 istilah “Teknologi Pendidikan” dan “Teknologi Pembelajaran” dianggap sinonim dan digunakan secara bergantian oleh kebanyakan ahli pendidikan untuk menjelaskan penerapan proses   (tools) teknologi dalam memecahkan permasalahn belajar dan pembelajaran.
Menurut Tom Cutchall. Teknologi pendidikan merupakan penelitian dan aplikasi ilmu perilaku dan teori belajar dengan menggunakan pendekatan system untuk melakukan analisis, desain, pengembangan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan penggunaan teknologi untuk membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja. Tujuan utamanya adalah pemanfaatan teknologi untuk membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja manusia.
Devinisi terbaru, Teknologi Pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan atau memanfaatkan dan mengolah proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Secara umum, pengertian teknologi pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut:
Bahwa tujuan utama teknologi pendidikan adalah membuat agar suatu pembelajaran lebih efektif yaitu dengan cara mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi secara sistematis berdasarkan teori komunikasi dan belajar tentunya, serta memanfaatkan seluruh sumber belajar. Disamping itu, melalui pengelolaan yang baik dan tepat terhadap proses dari pada pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumbe belajar tersebut.
Bahwa penekanan utama Teknologi Pendidikan  adalah pada penelitian dan aplikasi ilmu perilaku dan teori belajar dengan menggunakan pendekatan system untuk melakukan analisis, desain, pengembangan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan penggunaan teknologi untuk membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja, yaitu dengan memanfaatkan teknologi (Soft-technology maupun hard-technology) untuk membantu masalah belajar dan kinerja manusia.

B. Perkembangan Teknologi Pendidikan
  Teknologi pembelajaran semula berupa GERAKAN inovasi pendidikan yg kemudian berkembang menjadi ILMU dan PROFESI. Teknologi pendidikan sebagai disiplin ilmu, pada awalnya berkembang sebagai bidang kajian di Amerika Serikat. Kalau mengacu pada konsep teknologi sebagai cara, maka awal perkembangan teknologi pendidikan dapat dikatakan telah ada sejak awal peradaban, dimana orang tua mendidik anaknya dengan cara memberikan pengalaman langsung serta dengan memanfaatkan lingkungan. Saettler berpendapat bahwa sumber tumbuhnya teknologi pendidikan dapat ditelusuri sampai kamu Sufi, dengan cara merekan “menjajakan pengetahuannya.” Bahkan menurutnya cara dialog seperti dilakukan oleh Socrates sampai sekarang masih digunakan sebagai metode pemecahan masalah (problem-solving method). Perkembangan Teknologi pendidikan kini tidak luput dari awal mula perkembangan sejarah teknologi pendidikan. Sejumlah defenisi yang mengkonsepkan teknologi pendidikan dari generasi ke generasi merupakan sebuah sejarah yang menggambarkan eksistensi keberadaan teknologi pendidikan dari awal di bentuknya defenisi pendidikan hingga dewasa kini. Adapun beberapa defenisi teknologi pendidikan yang dapat diuraikan adalah sebagai berikut.
Gerakan untuk mengembangkan teknologi pendidikan dimotori oleh James D. Finn (1915-1969). Finn berkontribusi besar dalam perkembangan Teknologi pendidikan. Adapun kontribusi Finn terhadap perkembangan teknologi pendidikan adalah Finn berjasa dalam mengusulkan bidang komunikasi Audio Visual menjadi teknolgi pembelajaran. Besarnya kontribusi Finn pada perkembangan teknologi pendidikan menjadikan Finn dijuluki sebagai  Bapak Teknologi Pendidikan. Menurut Finn defenisi teknologi pendidikan telah ada sejak tahu 1920, pada tahun tersebut teknologi pendidikan dipandang sebagai media. Awal terbentuknya pandangan ini terjadi ketika pertama kali diproduksi media pendidikan pada awal abad dua puluhan. Media ini sebagai media pembelajaran visual yang berupa film, gambar dan tampilan yang mulai banyak dikembangakan pada tahun 1920. Reiser (2002:29)  menginformasikan dalam bukunya “A History Of Instructional Design and Technology” selama akhir tahun 1920 dan mulai banyak pada tahun 1930an , kemajuan teknologi banyak berkembang pada area seperti penyiaran radio, rekaman suara, dan gambar gerak dipimpin oleh suara untuk meningkatkan perhatian dalam media pembelajaran.Defenisi Teknologi pendidikan pada tahun 1960an ada beberapa defenisi teknologi pendidikan yang mewarnai sejarah teknologi pendidikan. Tahun 1960, teknologi pendidikan dipandang sebagai suatu cara untuk melihat masalah pendidikan dan menguji kemungkinan-kemungkinan solusi dari permasalahan dalam dunia pendidikan. Pada 1963 teknologi pendidikan didefenisikan sebagai pemanfaatan tiap metode dan medium komunikasi secara efektif untuk membantu pengembangan potensi belajar (orang yang belajar secara maksimal).
Pada tahun 1970-an beberapa defenisi teknologi pendidikan mulai banyak bermunculan, ini diawali oleh  defenisi komisi teknologi pendidikan (1970) yang mendefenisikan teknologi pendidikan dalam pengertian umum yaitu media yang lahir sebagai akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran disamping guru, buku teks, dan papan tulis bagian yang membentuk teknologi pembelajaran adalah televisi, film, ohp, komputer, dan bagian perangkat keras maupun lunak lainnya. Secara khusus defenisi komisi teknologi pendidikan mendefenisikan teknologi pembelajaran merupakan usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar dan mengajar untuk suatu tujuan khusus, serta didasarkan pada penelitian tentang proses belajar dan komunikasi pada manusia yang menggunakan kombinasi sumber manusia dan non manusia agar belajar dapat berlangsung efektif.  Defenisi Silber mewarnai kemunculan defenisi-defenisi teknologi pendidikan pada tahun 1970 an, silber mengungkapkan bahwa teknologi pembelajaran adalah pengembangan (riset, desain, produksi, evaluasi, dukungan-pasokan, pemanfaatan) komponen system pembelajaran (pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar) serta pengelolaan usaha pengembangan (organisasi dan personil) secara sistematik, dengan tujuan untuk memecahkan masalah belajar . Defenisi silber diatas memiliki perbedaan dengan defenisi tahun 1963. Penggunaan kata pengembangan berbeda artinya dengan apa yang ada pada defenisi sebelumnya. Dalam defenisi semula pengertian “pengembangan” menunjukkan pada pengembangan potensi manusia, gagasan ini mengandung arti lebih penting dari pendekatan tradisional psikologi pendidikan. Dalam defenisi silber, istilah “pengembangan” digunakan secara inklusif meliputi perancangan, produksi, penggunaan, dan penilaian teknologi untuk pembelajaran. Defenisi tahun 1970an mengikuti defenisi terdahulu dengan mengidentifikasikan peran yang dilakukan oleh teknolog pembelajaran. Perbedaannya ialah bahwa dalam cakupan teknologi pendidikan ada komponen tambahan (yaitu misalnya teknik dan latar).
Defenisi teknologi pendidikan pada tahun 1971, kembali dikeluarkan oleh Ely. Adapun defenisi teknologi pendidikan pada tahun 1971 adalah merupakan studi sistematik mengenai cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai (dalam Barabara,    hal 20). Pada tahun 1972, AECT mengeluarkan defenisi teknologi pendidikan sebagai suatu bidang yang berkepentingan dengan menfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam identifikasi, pengembangan, pengorganisasian, dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut. Defenisi Teknologi Pendidikan terus dikembangkan oleh AECT, pada tahun 1977. AECT kembali mengeluarkan defenisi Teknologi Pendidikan, dan AECT mendefenisikan teknologi pendidikan sebagai proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana, dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia . Perkembangan Teknologi pendidikan di Indonesia sudah ada sejak tahun 1951. Perkembangan teknologi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan mengikuti perkembangan yang ada di Amerika. Defenisi teknologi pendidikan pada tahun 1987 dikembang nasution dimana defenisi teknologi pendidikan sebagai pengembangan, penerapan, dan penilaian system-sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia. Defenisi teknologi pendidikan pada tahun 1990an semakin ramai dibicarakan. Seatler (1990) berpendapat teknologi sebagai upaya yang lebih terpusat pada peningkatan keterampilan dan organisasi kerja dibandingkan mesin dan peralatan. Sementara Molenda dan Russel (1993) mendefenisikan teknologi pembelajaran sebagai penerapan pengetahuan ilmiah tentang proses belajar pada manusia dalam tugas praktis belajar dan mengajar. Barbara (1994) mendefenisikan teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktek pada disain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evauasi terhadap proses dan sumber untuk belajar.
AECT (2004) kembali mengeluarkan defenisi teknologi pendidikan sebagai studi dan etika praktek untuk menfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya. Defenisi AECT 2004 dengan defenisi  sebelumnya tentang teknologi pendidikan memilikki perbedaan yang jelas. Pada defenisi sebelumnya AECT lebih menfokuskan kajian teknologi pendidikan sebagai usaha yang memudahkan pendidik untuk dapat memecahkan masalah-masalah dalam proses pembelajaran, serta pendidik dapat melaksanakan proses pembelajaran sesuai bidang garapan teknologi pendidikan yaitu dengan identifikasi, pengembangan, pengorganisasian, dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut. Dapat disimpulkan defenisi AECT ini, menfokuskan pembelajaran pada guru (Teacher center learning). Defenisi 2004, AECT tidak hanya menfokuskan kajian teknologi pendidikan pada pendidik (guru saja) namun segala aspek yang terkait dalam pendidikan juga diikut sertakan, seperti peserta didik misalnya. Dimana defenisi AECT 2004 menerangkan pembelajaran dipusatkan pada siswa (student center learning), guru berfungsi sebagai fasilitator dan motivator dalam meningkatkan proses belajar siswa, hal ini sesuai dengan defenisi teknologi pendidikan sebagai studi dan etika praktek untuk menfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi. Defenisi Teknologi pendidikan yang terbaru dikemukakan oleh Alan Januszewski (2008), yang mendefenisikan teknologi pendidikan sebagai “ studi dan praktek etis menfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses teknologi yang tepat dan sumber daya. Defenisi Alan ini menisyaratkan bahwa dalam dunia pendidikan kontribusi teknologi pendidikan tidak hanya bersifat teori namun juga di aplikasikan berupa praktek pelaksanaan dari teori-teori yang lahir sebagai pemecah masalah dalam proses pembelajaran.
C. Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
1. Pengertian pendidikan dan pelatihan
Pendidikan menurut crow and crow adalah suatu proses dimana pengalaman atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar. Pendidikan mencakup pengalaman, pengertian dan penyesuian diri dari pihak terdidik terhadap rangsangan yang diberikan kepadanya., menuju ke arah pertumbuhan dan perkembangan.
Pelatihan menurut Dessler (2009: 263) adalah proses mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka. Pelatihan merupakan salah satu usaha dalam dunia kerja. Baik yang baru ataupun yang sudah bekerja perlu mengikuti pelatihan. Karena adanya tuntutan pekerjaan yang dapat berubah akibat perubhan lingkungan kerja, strategi dan lain sebagainya.
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia  pada setiap unit kerja juga akan berhubungan dengan hakikat pendidikan dan pelatihan.

2. Metode-motode Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
a.) Metode On-The-Job Training
Metode on-the-job training merupakan metode yang paling banyak digunakan perusahaan dalam melatih tenaga kerjanya. Para karyawan mempelajari pekerjaannya sambil mengerjakannya secara langsung. Kebanyakan perusahaan menggunakan orang dalam perusahaan yang melakukan pelatihan terhadap sumber daya manusianya, biasanya dilakukan oleh atasan langsung. Dengan menggunakan metode ini lebih efektif dan efisien pelaksanaan latihan karena disamping biaya pelatihan yang lebih murah, tenaga kerja yang dilatih lebih mengenal dengan baik pelatihnya. Adapun empat metode yang digunakan antara lain, rotasi pekerjaan, penugasan yang direncanakan, pembimbingan, dan pelatihan posisi.
1.) Rotasi pekerjaan (job rotation), merupakan pemindahan pekerjaan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya dalam organisasi, sehingga dapat menambah pengetahuan dan pengalaman tenaga kerja.
2.) Penugasan yang direncanakan, menugaskan tenaga kerja untuk mengembangkan kemampuan dan pengalamannya tentang pekerjaannya.
3.) Pembimbingan, pelatihan tenaga kerja langsung oleh atasannya. Metode ini sangat efektif dilakukan karena atasan langsung sangat mengetahui bagaimana keterampilan bawahannya, sehingga lebih tahu menerapkan metode yang digunakan.
4.) Pelatihan posisi, tenaga yang dilatih untuk dapat menduduki suatu posisi tertentu. Pelatihan seperti ini diberikan kepada tenaga kerja yang mengalami perpindahan pekerjaan. Sebelum dipindahkan ke pekerjaan baru terlebih dahulu diberikan pelatihan agar mereka dapat mengenal lebih dalam tentang pekerjaannya.
b.) Metode Off-The-Job Training
Dalam metode off-the-job training, pelatihan dilaksanakan dimana karyawan dalam keadaan tidak bekerja dengan tujuan agar terpusat pada kegiatan pelatihan saja. Pelatih didatangkan dari luar organisasi atau para peserta mengikuti pelatihan di luar organisasi. Hal ini dilakukan karena kurang atau tidak tersedianya pelatih dalam perusahaan. Keuntungan dalam metode ini, para peserta latihan tidak merasa jenuh dilatih oleh atasannya langsung, metode yang diajarkan pelatih berbeda sehingga memperluas pengetahuan. Kelemahannya adalah biaya yang dikeluarkan relatif besar, dan pelatih belum mengenal secara lebih mendalam para peserta latihan sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pelatihan. Metode ini dapat dilakukan dengan beberapa teknik antara lain:
1.) Business games, peserta dilatih dengan memecahkan suatu masalah, sehingga para peserta dapat belajar dari masalah yang sudah pernah terjadi pada suatu perusahaan tertentu. Metode ini bertujuan ini agar para peserta latihan dapat dengan lebih baik dalam pengambilan keputusan dan cara mengelola operasional perusahaan dengan baik.
2.) Vestibule school, tenaga kerja dilatih dengan menggunakan peralatan yang sebenarnya dan sistem pengaturan sesuai dengan yang sebenarnya tetapi dilaksanakan di luar perusahaan. Tujuannya adalah untuk menghindari tekanan dan pengaruh kondisi dalam perusahaan.
3.) Case study, dimana peserta dilatih untuk mencari penyebab timbulnya suatu masalah, kemudian dapat memecahkan masalah tersebut. Pemecahan masalah dapat dilakukan secara individual atau kelompok atas masalah-masalah yang ditentukan.
c.) Classroom Methods, yang terdiri dari:
1.) Lecture (ceramah), metode ini banyak diberikan dalam kelas.
2.) Conference (rapat), pelatih memberikan suatu makalah tertentu dan peserta ikut berpartisipasi memecahkan masalah tersebut.
3.) Program instruksi, di mana peserta dapat belajar sendirikarena langkahlangkah pengerjaanya sudah diprogram melalui komputer, bukubuku petunjuk.
4.) Studi Kasus, dalam metode ini dimana pelatih memberikan suatu kasus kepada peserta.
5.) Rol Playing, metode ini dilakukan dengan menunjuk beberapa orang untuk memainkan suatu peranan di dalam sebuah organisasi tiruan.
6.) Diskusi, melalui metode ini pesertadilatih untuk berani memberikan pendapat dan rumusannya serta caracara meyakinkan orang lain agar percaya terhadap pendapat itu.
7.) Seminar, cara ini bertujuan untuk mengembangkan kecakapan dan  keahlian peserta dalam menilai dan memberikan saran-saran yang konstruktif mengenai pendapat oang lain.

D. Pengaruh Teknologi Pendidikan dalam Lembaga Pendidikan dan Pelatihan
Sebagaimana diketahui salah satu manfaat dari Teknologi Pendidikan, menerapkan metode problem solving dalam pendidikan, yang dapat dilakukan dengan alat-alat komunikasi modern, dan dapat juga dilakukan tanpa alat-alat tersebut. Melihat tuuan ini, maka Teknologi Pendidikan sangat berpengaruh dalam sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan.
Dalam penggunaan teknologi pendidikan adalah perluasan arena di mana dilakukan praktik. Meskipun penggunaan ini di lingkungan pendidikan dasar dan menengah, bidang ini kemudian dipengaruhi oleh pendidikan tinggi. Bahkan pelatihan karyawan di sektor swasta. Sebagai konsekuensinya, dalam lingkungan saat ini terdapat peningkatan konsentrasi pada isu-isu yang berhubungan dengan perubahan organisasi, dan perbaikan kerja.
Produk dan prosedur teknologi pendidikan tetap penting nagi efektifitas sekolah, khususnya pada saat dilakukan restrukturisasi sekolah. Akan tetapi banyak pakar teknologi. Prosedur perancangan pembelajran juga menjadi semakin umum di lingkungan pendidikan dan pelatihan kesehatan dan pendidikan luar sekolah. Masing-masing lingkungan pembelajaran ini membuktikan beragamnya kebutuhan peserta didik untuk berbagai rentang usia dan dengan berbagai minat, serta organisasi dengan berbagai tuuan. Keragaman kebutuhan ini merupakan laboratorium percobaan untuk penyempurnaan penggunaan teknologi pendidikan serta keragaman nilai dan sikap organisasi dan individu.
Di antara pengaruh teknologi pendidikan dalam lembaga pendidikan dan  Pelatihan adalah:
1. Teknologi Pendidikan berpengaruh pada peningkatan profesi guru dalam sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan.
 Teknologi pendidikan mengharuskan guru merumuskan tujuan yang jelas memikirkan metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan yang jelas merupakan pegangan untuk memilih metode yang tepat. Dan bila para guru menerapkan prinsip-prinsip teknologi pendidikan secara konsekuen, maka terbuka baginya jalan untuk memperbaiki mutunya sebagai guru, ia akan memandang proses mengajar-belajar sebagai problema yang tak berkesudahan yang dihadapinya secara objektif dan ilmiah. Dengan sikap guru seperti ini, maka mengajar akan dapat dikembangkan dan ditingkatkan menjadi profesi dalam arti yang sebenarnya.
2. Teknologi pendidikan berpengaruh pada peningkatan pemahaman peserta didik.
Belajar adalah berubah. Artinya belajar merupakan usaha mengubah tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Jadi belajar itu akan lebih baik, kalau si subjek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik. Maka dalam hal ini, Teknologi Pendidikan berperan menjembatani proses kegiatan belajar siswa tersebut secara efektif dan efisien.
3. Teknologi pendidikan berpengaruh pada keberhasilan lembaga pendidikan dan pelatihan.
Teknologi pendidikan bukan merupakan kunci ke arah sukses yang pasti dalam pendidikan. Akan tetapi teknologi pendidikan menunjukkan suatu prosedur atau metodologi yang dapat diterapkan dalam setiap lembaga pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya teknologi pendidikan, diharapkan lembaga pendidikan dan pelatihan dapat benar-benar berfungsi sebagai wadah pencetak peserta didik yang berdaya saing tinggi, karena telah mampu melaksanakan pendekatan belajar melalui empat pilar, yaitu: learing to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
4. Teknologi pendidikan berpengaruh dalam pengenalan awal teknologi kepada peserta didik.
Salah satu masalah kehidupan yang akan dihadapi para lulusan peserta didik adalah adanya perubahan masa yang akan datang yang belum pasti bentuk dan arahnya. Namun, yang pasti adalah adanya tantangan yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia yang salah satunya berwujud teknologi. Maka dengan melaksanakan teknologi pendidikan, adalah sama artinya dengan memperkenalkan teknologi dasar yang terus berkembang kepada peserta didik.



Komentar